Ramadan Mubarak : Amalan di Waktu Shubuh

Ketika mendengar azan Shubuh disunnahkan melakukan lima amalan berikut

 

a. Mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muazin.

 

b. Bershalawat pada Nabi g setelah mendengar azan: ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD atau membaca shalawat Ibrahimiyyah seperti yang dibaca saat

tasyahud.

 

c. Minta kepada Allah untuk Rasulullah  wasilah dan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah: ALLOHUMMAROBBA HADZIHID

DA’WATIT TAAMMAH WASH SHOLATIL QOOIMAH, AATI MUHAMMADANIL WASILATA WAL FADHILAH, WAB’ATSHU MAQOOMAM MAHMUUDALLADZI WA ‘ADTAH.

 

d. Membaca: ASYHADU ALLA ILAHAILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASULUH, RODHITU BILLAHI ROBBAA WA BI MUHAMMADIN ROSULAA WA BIL ISLAMI DIINAA, sebagaimana disebutkan dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash.

 

e. Memanjatkan doa sesuai yang diinginkan. (Lihat Jalaa’ Al-Afham karya Ibnul Qayyim, hlm. 329-331).

 

Dalil untuk amalan nomor satu sampai dengan tiga disebutkan dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash , ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah g bersabda,

صَلُّوا عَلََّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّ عَلََّ ÷ الُْؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ث َُّ . إِذَا سَِعْتُ ُ

. ةَ لٌ فِ E ا مَنْ زِ . سَلُوا الَّلَ لَِ الْوَسِي ةَ لَ فَإِنَّ َ ÷ ا ثُ َّ . ا عَ شْ ً . صَلاَةً صَلَّ الَّلُ عَلَيْهِ بِ َ

نْ سَأَلَ . هُوَ ف ََ . إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ الَّلِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَ . ا جْ لَنَّةِ لاَ تَنْبَ غِ

لَِ اْلوَسِي ةَ لَ حَلَّتْ لَُ الشَّفَاعَةُ

Jika kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muazin. Kemudian bershalawatlah untukku.Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan

bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafaatku.” (HR. Muslim, no. 384).

Adapun meminta wasilah pada Allah untuk Nabi disebutkan dalam hadits dari Jabir bin Abdillah h, Rasulullah g bersabda,

ةِ . يسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ اْلقَائِ َ ³ مَنْ قَالَ حِ ي نَ

آتِ مَُمَّدًا الْوَسِي ةَ لَ وَالْفَضِي ةَ لَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ

يوْمَ اْلقِيَامَةِ . لَُ شَفَاعَ تِ

Barang siapa mengucapkan setelah mendengar adzan

‘ALLOHUMMA ROBBA HADZIHID DA’WATIT TAAMMAH WASH SHOLATIL QOO-IMAH, AATI MUHAMMADANIL WASILATA WAL FADHILAH, WAB’ATSHU MAQOOMAM MAHMUUDA ALLADZI WA ‘ADTAH’ [artinya: Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya], maka dia akan

mendapatkan syafaatku kelak.” (HR.Bukhari, no. 614 ). 


Ada juga amalan sesudah mendengarkan azan jika diamalkan akan mendapatkan ampunan dari dosa. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Rasulullah bersabda,

يِكَ

. لاَّ الَّلُ وَحْدَهُ لاَ شَ إِ لَ إِ دُ أَنْ لاَ . يَسْمَعُ الُْؤَذِّنَ أَ شْ َ ³ مَنْ قَالَ حِ ي نَ

إِ لسْلاَمِ . حَمَّدٍ رَسُولاً وَبِ . وَبِ ُ . لَّلِ رَ بًّ . لَُ وَأَنَّ مَُمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُُ رَضِيتُ بِ

دِينًا. غُفِرَ لَُ ذَْنبُهُ

Siapa yang mengucapkan setelah mendengar azan: ‘ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH WA ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASULUH, RADHITU BILLAHI ROBBAA WA BI MUHAMMADIN ROSULAA WA BIL ISLAMI DIINAA’ (artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim, no. 386).

  

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr k bahwa seseorang pernah berkata,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya muazin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan. Rasulullah bersabda,

 

يْتَ فَسَلْ تعْطَهْ A قُلْ كََا يقُوُلونَ فَِإذَا اْنتَ َ

Ucapkanlah sebagaimana disebutkan oleh muazin. Lalu jika sudah selesai kumandang azan, berdoalah, maka akan diijabahi (dikabulkan).” (HR. Abu Daud, no. 524 dan Ahmad, 2:172. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

 

Artinya, doa sesudah azan termasuk di antara doa yang diijabahi. Setelah menyebutkan lima amalan di atas, Ibnul Qayyim berkata, “Inilah lima amalan yang bisa diamalkan sehari semalam. Ingatlah yang bisa terus menjaganya hanyalah as

saabiquun, yaitu yang semangat dalam kebaikan.” (Jalaa’ Al- Afham, hlm. 333).

 

 

Melaksanakan shalat sunnah Fajar (qabliyah Shubuh) sebanyak dua rakaat.

    

Nabi benar-benar perhatian pada shalat sunnah Fajar. Dari

Aisyah, ia menyatakan,

. ي ءٍْ مِنَ النَّوَافِلِ أشَدَّ تَعَاهُدَاً مِنهُ عَلَ رَكْعَ تَ ي

` عَلَ شَ , . نِ النَّبِ ي لَْ يَكُ

جْرِ الفَ

“Tidak ada shalat yang Nabi g sangat perhatian padanya selain dua rakaat qabliyah Shubuh.” (HR. Bukhari, 1169 dan Muslim, no. 724).

 

Keutamaan shalat ini adalah lebih baik dari dunia seisinya. Dari Aisyah , ia menyatakan,

اA مِنَ الدُّنيَا وَمَا فِيْ َ E رَكْعَتَا الفَجْرِ خَيْ ٌ

 

Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih baik daripada dunia daseisinya.” (HR. Muslim, no. 725). Dalam riwayat lain disebutkan,

 

يْعًا . مِنَ الدُّْنيا جَ ِ حَبُّ إِ ي ل لَُمَا أَ

“Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih aku sukai daripada dunia semuanya.”

 

Nabi biasa membaca surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas sebagaimana dijelaskan dalam hadits di bawah ini.

³ الرَّكْعَتَ يْ نِ . رًا فَكَنَ يَقْرَأُ فِ ي .ش َْ g . قَالَ: رَمَقْتُ النَّب ي َّ ،k عَُرَ . عَنِ ابْ نِ

ا اْلكَفِرُونَ{ وَ }قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ{ . أيُّ َ . قَبْلَ الفَجْرِ: }قُلْ يَ

Dari Ibnu ‘Umar k, ia berkata, “Aku telah memperhatikan Nabi selama sebulan. Beliau biasa membaca pada dua rakaat qabliyah Shubuh dengan surah 'Qul yaa ayyuhal kaafirun' (surah Al-Kafirun) dan surah 'Qul huwallahu ahad' (surah Al-Ikhlas).

(HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan) (HR.Tirmidzi, no. 417 dan Ibnu Majah, no. 1149. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

 

 

Shalat sunnah Fajar dijaga sebagaimana shalat sunnah rawatib lainnya


Shalat rawatib dalam sehari ada dua belas rakaat yang dijamin akan mendapatkan rumah di surga: (a) dua rakaat qabliyah Shubuh, (b) empat rakaat qabliyah Zhuhur, (c) dua rakaat badiyah Zhuhur, (d) dua rakaat badiyah Maghrib, dan (e) dua

rakaat badiyah Isya.

 

Dari Ummu Habibah i, Rasulullah bersabda,

ا جْ لَنَّةِ . نَّ بيْتٌ فِ . لَُ بِ ِ . يوْمٍ وََليْ ةَ لٍ ب نِ َ . ةَ رَكْعَةً فِ . عَ شْ َ . مَنْ صَلَّ اثْنَ تَ ْ

“Barang siapa mengerjakan shalat sunnah (rawatib) dalam sehari semalam sebanyak 12 rakaat, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim, no. 728).

  

Dari ‘Aisyah, Nabi  bersabda,

ا جْ لَنَّةِ أَرْبَعِ . الَّلُ لَُ بَيْتًا فِ . ةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَ نَ . عَ شْ َ . عَلَ ثِنْ تَ ْ .بَ َ . مَنْ ثَ

³ بَعْدَ الَْغْرِبِ وَرَكْعَتَ يْ نِ ³ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَ يْ نِ ³ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَ يْ نِ

جْرِ قَبْلَ اْلفَ ³ عَتَ يْ نِ بَعْدَ اْلعِشَاءِ وَرَكْ

Barang siapa merutinkan shalat sunnah dua belas rakaat dalam sehari, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR.

Tirmidzi, no. 414. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa

sanad hadits ini hasan).

 

Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan,

³ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَ يْ نِ ³ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَ يْ نِ . عَ شْ َ g . حَفِظْتُ مِنَ النَّبِ ِّ

بَيْتِهِ ، . بَعْدَ الْعِشَاءِ فِ ³ بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَ يْ نِ . بَعْدَ الَْغْرِبِ فِ ³ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَ يْ نِ

ةِ الصُّبْحِ قَبْلَ صَلاَ ³ عَتَ يْ نِ وَرَكْ

“Aku menghafal dari Nabi g sepuluh rakaat (sunnah rawatib), yaitu dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.” (HR. Bukhari, no. 1180).

 

Melaksanakan shalat Shubuh berjamaah di masjid bagi laki-laki dan berusaha mendapatkan takbir pertama bersama imam di masjid. Sedangkan shalat terbaik bagi wanita adalah di rumah, bahkan di dalam kamarnya.

 

Dari Anas bahwa Rasulullah  pada suatu malam mengakhirkan shalat Isya sampai tengah malam. Kemudian beliau menghadap kami setelah shalat, lalu bersabda,

نَ دَرَجَةً .يِ

. وَعِ شْ بسَبْعٍ صَلاَةُ ا جْ لَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ اْلفَذّ

Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650).

 

Bahkan selama empat puluh hari tidak pernah bolong shalat berjamaah dan mendapati takbiratul ihram bersama imam, maka akan mendapatkan dua keutamaan: (1) selamat dari siksa neraka, dan (2) selamat dari kemunafikan.

 

Dari Anas bin Malik, Rasulullah  bersabda,

ولَ كُتِبَتْ لَُ

أُةَ ا لE اعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِي َ . جَ َ . يَوْمًا فِ ³ رْبَعِ ي نَ أَ مَنْ صَلَّ لَِِّ

اءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ . اءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَ َ . نِ بَ َ . اءَتَ .بَ َ

Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia tidak luput dari takbiratul ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal yaitu terbebas dari siksa neraka dan terbebas dari kemunafikan.” (HR.Tirmidzi, no. 241. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits

ini hasan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2652).

 

Wajibnya shalat berjamaah bagi pria, cukup diterangkan dalam hadits berikut ini.

رَسُولَ . رَجُلٌ أعَْ ، فقَالَ : ي g . النب يَّ . قَالَ : أَتَ ، i ةَ. هُرَيْ َ . عَنْ أَبِ ي

أنْ g إلى الَْسْجِدِ ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ . اللهِ ، لَيسَ يِ ل قَائِدٌ يَقُودُ نِ ي

بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَُ ، فَلََّا وَلَّ دَعَاهُ ، فَقَالَ لَُ : )) هَلْ . خِّصَ لَُ فَيُصَ يِّ ل فِ ي .يُ َ

لصَّلاَةِ ؟ (( قَالَ : نعَمْ . قَالَ : )) فَأجِبْ (( . تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِ

Dari Abu Hurairah h, “Nabi  kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah g untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah g memberinya keringanan tersebut. Namun, ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut.’ (HR. Muslim, no. 503).

 

Ibnul Mundzir berkata, “Jika seorang buta tidaklah diberi keringanan, ia tetap disuruh shalat berjamaah oleh Rasul, bagaimanakah dengan yang diberi karunia penglihatan?” (Lihat Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha, hlm. 108).

 

Ingat juga apa yang telah dikatakan oleh Imam Syafi’I,

رٍ لاَّ مِنْ عُذْ كَِا إِ . تَ ْ . رَخِّصُ فِ ي وَأَمَّا ا ج لَمَاعَةُ فَلاَ اُ

 

“Adapun shalat jamaah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” (Lihat Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha, hlm. 107).

 

Adapun wanita tidak wajib berjamaah di masjid, bahkan lebih afdal shalat di rumah dan pahalanya bisa mengalahkan shalat di masjid, walau shalat di rumahnya hanya sendirian.

 

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Ramadan Mubarak: Adab Berbuka Puasa

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru