Ramadan Mubarak: Amalan di Waktu Sahur

 

1. Bangun tidur untuk makan sahur dengan segera berdzikir, berwudhu, dan shalat. Dengan melakukan seperti ini akan lepas tiga ikatan setan ketika tidur.

 

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda,

مَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَ ضْ بُِ . عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَ قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُْ إِذَا هُوَ نَ

لَّتْ عُقْدَةٌ . كَُّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ ا ا ن َْ

لَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ . لَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّ ا ن َْ . ، فَإِنْ تَوَضَّأَ ا ن َْ

كَسْلاَنَ سِيثَ النَّفْ صْبَحَ خَِب لاَّ أَ سِ ، وَإِ النَّفْ

Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian

jika dia berwudhu, lepaslah lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari, no. 1142

dan Muslim, no. 776).

  

2. Melakukan shalat tahajud walaupun hanya dua atau empat rakaat. Lalu menutup dengan shalat witir jika belum melakukan shalat witir ketika shalat tarawih. Jika sudah menutup witir pada shalat tarawih, maka tidak mengulangi witir karena tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.

 

Masih boleh menambah shalat malam setelah tarawih karena jumlah rakaat shalat malam tidak ada batasannya. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa shalat malam tidak dibatasi jumlah rakaatnya yaitu ketika Nabi ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,


أَحَدُكُُ الصُّبْحَ صَلَّ رَكْعَةً وَاحِدَةً . ، فَإِذَا خَ شِ َ . مَثْ نَ . صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْ نَ

لَُ مَا قَدْ صَلَّ . ، توتِ ُ

Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu Shubuh, maka kerjakanlah satu rakaat. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari, no. 990 dan Muslim, no. 749; dari Ibnu ‘Umar).  Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu ada batasannya, tentu Nabi  akan menjelaskannya.

 

Yang penting tidak ada dua witir dalam satu malam. Dari Thalq bin ‘Ali, ia mendengar Rasulullah bersabda,

ليْ ةَ لٍ . انِ فِ . لاَ وِتْ َ

Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, no. 470; Abu Daud, no. 1439; An-Nasa’i, no. 1679. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  

3. Setelah shalat, berdoa sesuai dengan hajat yang diinginkan karena sepertiga malam terakhir (waktu sahur) adalah waktu terkabulnya doa.

 

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda,

ثُلُثُ اللَّيْلِ â يَبْقَ ³ لُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَ كَُّ لَيْ ةَ لٍ إِلَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِ ي نَ E يَن زِْ

. فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُ نِ . فَأَسْتَجِيبَ لَُ مَنْ يَسْأَلُ نِ . ا آ لخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِ

فَأَغْفِرَ لَُ

Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Doa dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3:32).

   

4.Melakukan persiapan untuk makan sahur lalu menyantapnya. Ingatlah bahwa dalam makan sahur terdapat keberkahan.

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda,


كَََةً . السَّحُورِ ب . إِنَّ فِ تَسَحَّرُوا فَ

Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 1923 dan Muslim no. 1095).

 

5. Sambil menunggu azan Shubuh, memperbanyak istighfar dan menyempatkan membaca Al-Quran.


Allah  berfirman,

﴾ سَْارِ ١٧

أَْل. بِ . ﴿ وَاْلُسْتَغْفِرِي نَ

Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17).


Aktivitas baca Al-Quran dapat dilihat dari aktivitas makan sahur di masa Nabi  berikut ini.

تَسَحَّرَا ، h بِتٍ. ثَ . وَزَيْدَ بْ نَ g ا . أَنَّ نَبِ َّ h مَالِكٍ . عَنْ أَنَسِ بْ نِ

نَسٍ

أَإِلَ الصَّلاَةِ فَصَلَّ . قُلْنَا ل g ا . فَلََّا فَرَغَا مِنْ سَُورِهَِا قَامَ نَبِ ُّ

الصَّلاَةِ قَالَ كَقَدْرِ مَا يَقْرَأُ . مَا مِنْ سَُورِهَِا وَدُخُولِِمَا فِ . فَرَا غِ ِ ³ كَْ كَنَ بَ يْ نَ

آَيةً ³ سِ ي نَ . الرَّجُلُ خَ ْ

Dari Anas bin Malik h bahwasanya Nabi  dan Zaid bin Tsabit h pernah makan sahur. Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi  berdiri untuk shalat, lalu beliau mengerjakan shalat. Kami bertanya pada Anas tentang berapa lama antara selesainya makan sahur mereka berdua dan waktu melaksanakan shalat Shubuh. Anas menjawab, “Yaitu sekitar seseorang membaca 50 ayat (Al-Quran).” (HR. Bukhari, no. 1134 dan Muslim, no. 1097).

  

6. Waktu makan sahur berakhir ketika azan Shubuh berkumandang (masuknya fajar Shubuh).

 


Dalilnya disebutkan bahwa aktivitas makan dan minum berhenti ketika terbit fajar Shubuh (ditandai dengan azan Shubuh yang tepat waktu) sebagaimana dalam ayat,

سْوَدِ مِنَ

أَْبْيَضُ مِنَ ا خْ لَيْطِ ا ل

أَْ لَكُُ ا خْ لَيْطُ ا ل ³ يَتَبَ ي نََّ . بُوا حََّت . ﴿ وَكُُوا وَا ش َْ

﴾ وا الصِّيَامَ إِلَ اللَّيْلِ ١٨٧ . أَتِ ُّ ÷ اْلفَجْرِ ثُ َّ

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).

   

Dalam Al-Majmu’, Imam Nawawi menyebutkan, “Kami katakan bahwa jika fajar terbit sedangkan makanan masih ada di mulut, maka hendaklah dimuntahkan dan ia boleh teruskan puasanya. Jika ia tetap menelannya padahal ia yakin telah masuk fajar, maka batallah puasanya. Permasalah ini sama sekali tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama. Dalil dalam masalah ini adalah hadits Ibnu ‘Umar dan Aisyah bahwasanya Rasulullah bersabda,


مِّ مَكْتُومٍ نُْ أُ . يؤَذِّنَ اب . بَُوا حََّت . ، فَكُُوا وَا شْ يْلٍ لَلاً يؤَذِّنُ بلَ ب نَّإِ

Sungguh Bilal mengumandangkan azan di malam hari. Tetaplah kalian makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan.” (HR. Bukhari, no. 622 dan Muslim,no. 1092).

 

 

7. Bagi yang berada dalam keadaan junub, maka segera mandi wajib. Masih dibolehkan masuk waktu Shubuh dalam keadaan junub dan tetap berpuasa. Termasuk juga masih boleh masuk waktu Shubuh dalam keadaan belum mandi suci dari haidh.



Istri tercinta Nabi , Aisyah  berkata,

 

حُلُ Eيْ ِ رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَ . كُهُ الْفَجْرُ فِ يُدْرِ  ا قَدْ كَنَ رَسُولُ

فيََغْتسَِلُ وَيصَُومُ.

 

“Rasulullah  pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa.” (HR. Muslim, no. 1109).

 

Hadits di atas diperkuat lagi dengan ayat,

³ يَتَبَ ي نََّ . بُوا حََّت . وهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ ا لَكُْ وَكُُوا وَا شْ َ .شِ ُ . ﴿ فَا آَْ لنَ بَ

وا الصِّيَامَ إِلَ . أَتِ ُّ ÷ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثَُّ

أَْبْيَضُ مِنَ ا خْ لَيْطِ ا ل

أَْلَكُُ ا خْ لَيْطُ ا ل

﴾ اللَّيْلِ ١٨٧

Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).

 

Imam Nawawi berkata, “Yang dimaksud dengan mubasyaroh (basyiruhunna) dalam ayat di atas adalah jima' atau hubungan intim. Dalam lanjutan ayat disebutkan ‘ikutilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian’. Jika jima' itu dibolehkan hingga terbit fajar (waktu Shubuh), maka tentu diduga ketika masuk Shubuh masih dalam keadaan junub. Puasa ketika itu pun sah karena Allah perintahkan ‘sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam’. Itulah dalil Al-Quran dan juga didukung dengan perbuatan Rasulullah yang menunjukkan bolehnya masuk Shubuh dalam keadaan junub.” (Syarh Shahih Muslim, 7:195).

 

 

Catatan: Mandi junub sebelum fajar Shubuh tiba lebih afdal. Walaupun kalau mandi setelah fajar Shubuh terbit dibolehkan.

   


Disadur dari : Rumaysho

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Ramadan Mubarak: MEMAHAMI SHALAT TA...

NEXT ARTICLE

Ramadan Mubarak: Adab Berbuka Puasa

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru