Mampukah Kita Menghitung Nikmat Allah?

Apapun yang kita miliki adalah nikmat dari Allah. Dari hal terkecil sekalipun, semua adalah pemberian Allah. Semua yang kita nikmati di dunia ini terbagi menjadi 2:

1.      Kenikmatan yang kita nikmati di dunia kemudian nikmat itu hilang dan hanya bersisa pertanggung jawaban di akhirat. Kita akan dimintai pertanggung jawaban tentang kesehatan yang sering kita gunakan untuk hal yang tidak disukai Allah. Mata akan ditanya tentang apa yang dia lihat. Kekayaan akan di hisab, untuk apa dia digunakan.

2.      Nikmat yang tidak terbatas di dunia. Nikmat itu kita nikmati di dunia dan akan kita jumpai lagi sebagai nikmat yang lebih besar di akhirat. Nikmat yang jika kita gunakan dengan benar akan melahirkan kenikmatan baru. Nikmat tubuh yang sehat misalnya. Jika kita gunakan tubuh ini dijalan yang direstui Allah, maka perbuatan itu akan menjadi tabungan kenikmatan selanjutnya. Jika kita menikmati dan berbagi harta sesuai dengan perintah Allah, maka harta itu akan melahirkan kenikmatan baru di akhirat kelak. Mungkin bentuk kenikmatannya sama, tapi cara kita menikmati kenikmatan yang diberikan Allah itu menentukan apakah nantinya harus dipertanggung jawabkan atau akan menjadi kenikmatan baru. Karena itu Rasulullah ketika menikmati sesuatu, beliau selalu berharap semoga kenikmatan ini bersambung dengan nikmat di akhirat. Sementara Allah selalu membandingkan kenikmatan yang hanya dapat dinikmati di dunia dan kenikmatan yang tersambung terus hingga kehidupan selanjutnya. Kenikmatan dunia itu sedikit masanya, namun berat tanggungannya.

مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ -١١٧-

“(Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (An-Nahl 117)

 

Kenikmatan sejati adalah kenikmatan yang Allah berikan di dunia sebagai bekal untuk memperoleh kenikmatan di akhirat. Karena itu Rasulullah bersabda,

“Kesempurnaan nikmat adalah masuk surga”

Seorang yang masuk ke surga telah mendapat kenikmatan sejati karena dia telah hidup dalam kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan dunia hanyalah fatamorgana. Seakan telah menikmati berbagai kenikmatan padahal semua itu akan segera sirna.

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ-٦٤-

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya”  (Al-Ankabut 64)

Di awal surat An Nahl, disebutkan berbagai nikmat. Di antara nikmat yang disebutkan adalah hewan ternak, turunnya hujan, tumbuhnya berbagai tanaman (zaitun, kurma, dan anggur), beralihnya malam dan siang, adanya laut untuk mencari karunia Allah, adanya gunung-gunung yang dijadikan sebagai pasak agar bumi tidak bergoncang dan adanya bintang sebagai petunjuk arah.

Kemudian setelah menyebutkan berbagai nikmat tersebut, Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

Yang dimaksud dengan ayat ini disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 278), “Jika kalian tidak mampu menghitungnya, lebih-lebih untuk mensyukuri semuanya. Namun kekurangan dan kedurhakaan kalian masih Allah maafkan (bagi yang mau bertaubat, -pen), Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir juga menjelaskan dalam kitab tafsirnya (4: 675), “Allah benar-benar memaafkan kalian. Jika kalian dituntut untuk mensyukuri semua nikmat yang Allah beri, tentu kalian tidak mampu mensyukurinya. Jika kalian diperintah untuk mensyukuri seluruh nikmat tersebut, tentu kalian tidak mampu dan bahkan enggan untuk bersyukur. Jika Allah mau menyiksa, tentu bisa dan itu bukan tanda Allah itu zholim. Akan tetapi, Allah masih mengampuni dan mengasihi kalian. Allah mengampuni kesalahan yang banyak lagi memaafkan bentuk syukur kalian yang sedikit.”

Imam Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Sesungguhnya Allah memaafkan kekurangan kalian dalam bersyukur. Jika kalian bertaubat, kembali taat dan ingin menggapai ridho Allah, Dia sungguh menyayangi kalian dengan ia tidak akan menyiksa kalian setelah kalian betul-betul bertaubat.” Demikian beliau sebutkan dalam Jami’ul Bayan fii Ta’wil Ayyil Qur’an, 8: 119.

Muhammad Al Amin Asy Syinqithi menjelaskan, “Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia tidak mampu menghitung nikmat Allah karena begitu banyaknya. Lalu setelahnya Allah sebutkan bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ini menunjukkan atas kekurangan manusia dalam bersyukur terhadap nikmat-nikmat tersebut. Namun Allah masih mengampuni siapa saja yang bertaubat pada-Nya. Allah akan mengampuni setiap orang yang memiliki kekurangan dalam bersyukur terhadap nikmat. Hal ini diisyaratkan pula dalam ayat,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34). Setiap nikmat memang dari Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya dari surat An Nahl,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An Nahl : 53). (Lihat Adhwaul Bayan, 3: 231).

Dalam ayat ini pula, Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi memberikan pelajaran kaedah bahasa Arab bahwa isim mufrod jika disandarkan pada isim ma’rifah, maka menunjukkan makna umum. Semisal dalam ayat ini kata “ni’mat Allah”. Nikmat itu mufrod (tunggal), lafazh jalalah “Allah” adalah isim ma’rifah. Jadi yang dimaksud adalah seluruh nikmat, bukan hanya satu nikmat saja.

Ya Allah, kami bersyukur kepada-Mu sebanyak nikmat yang disyukuri oleh orang-orang yang bersyukur dalam setiap lisan dan setiap waktu.

Semoga kita jadi hamba Allah yang pandai bersyukur. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad




disadur dari : khazanahquran.com dan rumaysho.com

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Kenapa Dianjurkan Menikah di Bulan ...

NEXT ARTICLE

Berkumpul (Lagi) Bersama Keluarga...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru