Keguguran? Begini Pandangan Islam


Seorang perempuan ditakdirkan untuk dapat mengandung dan melahirkan seorang anak. Namun, ketika seorang perempuan mengandung terkadang tidak sampai melahirkan anak yang dikandungnya. Kejadian ini dapat terjadi dikarenakan keguguran yang dialami oleh seorang perempuan yang mengandung. Menyikapi hal tersebut, Islam memiliki pandangan terkait seorang perempuan yang mengandung kemudian mengalami keguguran. Sebagai agama yang mengatur semua kehidupan makhluknya termasuk hukaman dan pahala bagi setiap kejadian yang menimpanya. Islam menjelaskan dengan rinci terkait keguguran ini.

Secara bahasa, keguguran dapat diartikan keluarnya janin dengan tidak disengaja sebelum waktunya lahir. Sedangkan dalam Islam, keguguran diartikan sebagai anak yang keluar dari perut ibunya dengan bentuk tidak sempurna, secara istilah janin yang keluar atau gugur dari perut ibunya dalam keadaan mati. Penjelasan tersebut disampaikan oleh Syaikh Kholid Bin Ali Al Musyaqi.


Hukum Keguguran Janin

Islam telah mengatur kehidupan makhluknya secara rinci. Salah satu hal yang diatur oleh Islam terkait hukum keguguran janin. Hal ini menjelaskan proses-proses Islami yang dilakukan ketika terjadi keguguran pada seorang perempuan.

Kondisi janin ketika seorang perempuan mengalami keguguran dapat dibedakan menjadi dua, sebelum ditiupkannya ruh dan sesudah ditiupkannya ruh. Sementara batas usia janin yang sudah ditiupkan ruh dijelaskan oleh para ulama yaitu empat bulan. Penjelasan ini membagi hukum dari keguguran janin menjadi dua keadaan, gugur sebelum ditiupkan ruh dan gugur setelah ditiupkan ruh.

Pada janin yang usianya kurang dari empat bulan dan mengalami keguguran maka janin ini diberlakukan seperti daging biasa, yaitu membungkusnya kemudian menguburkan. Sedangkan janin keguguran pada usia lebih dari empat bulan  maka perlu dimandikan, dikafani, diberi nama, disholati, diaqiqahi dan dikuburkan. Hal ini dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam al-Majmu (5/255) tentang pendapat dari Imam Syafi’i.

وَإِنْ تَمَّ لَهُ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ فَفِيهِ قَوْلَانِ (قَالَ) فِي الْقَدِيمِ يُصَلَّى عَلَيْهِ لِأَنَّهُ نُفِخَ فِيهِ الرُّوحُ فَصَارَ كَمَنْ اسْتَهَلَّ

(وَقَالَ) فِي الْأُمِّ لَا يُصَلَّى عَلَيْهِ وَهُوَ الْأَصَحُّ لِأَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ لَهُ حُكْمُ الدُّنْيَا فِي الْإِرْثِ وَغَيْرِهِ فَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ

“Jika janin telah sempurna usianya 4 bulan, maka ada 2 pendapat. Dalam al-Qodiim (Imam Syafi’i) berpendapat : ‘janin tersebut disholati’, karena sudah ditiupkan ruh, maka itu seperti janin yang istihlaal. Namun dalam al-Umm, beliau berpandapat tidak disholati dan ini adalah pendapat yang rajih, karena janin tidak tetap padanya hukum dunia berupa warisan dan selainnya, sehingga tidak disholati.”


Terkait seorang perempuan yang keguguran, Allah telah menjelaskan. Bagi seorang ibu yang keguguran dengan usia janin kurang dari 80 hari maka tidak diberlakukan hukum nifas, sedangkan apabila usia janin sudah 80 hari lebih maka berlaku baginya hukum nifas. Hal ini dijelaskan dalam fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia no. 9520.


“Jika janin sudah terbentuk yakni sudah kelihatan anggota tubuhnya, seperti tangan atau kaki atau kepala, maka diharamkan berjima’ selama darah masih keluar sampai 40 hari. Boleh berjima’ jika darahnya sudah terhenti –walaupun- belum 40 hari, setelah istri mandi terlebih dahulu.

Adapun jika tidak kelihatan anggota tubuhnya, maka boleh berjima’ dengan istri, sekalipun masih mengeluarkan darah, karena itu tidak dianggap sebagai nifas, itu hanyalah darah fasad yang masih bisa tetap sholat, puasa dan halal berjima’, lalu sang ibu berwudhu setiap kali hendak sholat.”


Hikmah Dibalik Gugurnya Janin

Kehamilan menjadi hal yang sangat dinantikan oleh setiap pasangan. Kehadiran seorang buah hati menjadi bukti cinta dan kuasa Ilahi. Namun, tidak semua yang diharapkan akan berwujud menjadi kenyataan. Allah berkuasa atas segala peristiwa yang terjadi pada setiap makhluk. Termasuk berhubungan dengan keguguran yang dialami oleh seorang ibu. Keguguran memberikan duka yang mendalam bagi seorang ibu. Sosok buah hati yang dinantikan harus kembali kepada Ilahi. Akan tetapi, Allah telah mengatur semuanya, memberikan balasan yang setimpal dengan keadaan yang menimpa makhluknya.

Allah memberikan hiburan yang tertuang dalam janjiNya. Seorang ibu yang bersabar dalam menghadapi musibah keguguran seorang anak maka untuknya surga. Hal ini dijelaskan dalam hadist riwayat Ibnu Majah sebagai berikut.

والذي نفسي بيده إن السقط ليجر أمه بسرره إلى الجنة إذا احتسبته

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa ibunya ke dalam surga dengan bersama ari-arinya. apabila ibunya mengharap pahala dari Allah (dengan musibah tersebut).” (HR. Ibnu Majah no. 1690)


Hadist ini mengalami perselisihan dari para ulama terkait keshahihannya. Namun, beberapa ulama menguatkan bahwa janin yang mengalami keguguran akan menghantarkan ibunya ke surga. Imam An-Nawawi mengatakan

موتُ الواحدِ من الأولادِ حجابٌ منَ النار ، وكذا السقطُ

“Kematian salah seroang dari anak adalah penghalang dari api neraka demikian pula janin yang keguguran

Selain beberapa hal yang telah dijelaskan, kematian seorang anak ketika belum memasuki masa baligh maka anak tersebut akan langsung masuk ke dalam surga tanpa hisab. Hal ini dijelaskan dalam hadist riwayat Buhkari dan Muslim.

Tiap-tiap anak orang Islam yang mati sebelum baligh akan dimasukkan ke dalam syurga dengan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Anak yang meninggal sebelum baligh juga akan mengantarkan orangtuanya untuk masuk pula ke surga. Dalam hadist Bukhori muslim yang diriwayatkan oleh Anas ra.

Rasulullah saw bersabda, tidaklah seorang muslim kematian tiga anaknya yang belum baligh, kecuali, Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga berkat kasih sayang-Nya kepada anak-anaknya tersebut, ”(HR Bukhori muslim).


Keguguran menjadi ladang amal bagi seorang ibu. Dibalik kesedihan kehilangan buah hati yang dinantikan, kematian seorang anak dalam kandungan juga memberikan hikmah yang besar. Oleh karena itu, sebagai umat Islam harus meyakini bahwa Allah tidak pernah memberikan beban diluar kesanggupah hambaNya. Maka seorang ibu yang keguguran harus bersabar serta yakin bahwa Allah akan menggantinya dengan  yang lebih baik.




artikel: azzlam.com


SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Tentang Selfie dalam Pandangan Isla...

NEXT ARTICLE

Jual Beli Online: Pandangan dan Huk...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru