Dana (Uang) Dalam Perspektif Islam

Dana atau uang memiliki banyak dimensi, sesuai dengan dari sudut pandang mana kita melihatnya. Jika dilihat dari segi fungsi, maka setidaknya ada empat fungsi uang, yaitu;


Pertama: Uang berfungsi sebagai media pengukur (standard of value). Dengan kata lain, dengan uang nilai benda dapat diukur. Tanpa uang, nilai benda sulit diketahui. Karenanya praktek jual beli tempo dulu (barter) menyimpan kesulitan tersendiri, yakni; seorang sulit menentukan nilai barang yang ia beli atau jual.

Kedua: Uang juga berfungsi sebagai medium of change atau alat tukar. Tidak dipungkiri, bahwa dalam barter pun terjadi pertukaran barang. Akan tetapi sangat sulit menentukan barang mana yang berposisi sebagai harga dan mana sebagai objek transaksi.

Oleh karenanya, uang menjadi alat tukar yang paling disukai. Selain fisiknya lebih ringan, ia juga paling liquid atau paling mudah digunakanuntuk memperoleh barang keinginan lainnya.

Ketiga: Uang juga berfungsi sebagai pengukur simpanan. Artinya setiap orang dengan mudah mengukur nilai tabungannya berdasarkan jumlah uang yang tersimpan dalam rekeningnya.

Keempat: Uang berfungsi untuk mengukur kekuatan daya beli jangka panjang. Fungsi ini terkait erat dengan fungsi ketiga. Adanya dana saving berarti sesorang telah menyimpan kekuatan daya beli jangka panjang.

Kategori Pertama: Dana Investasi (Istitsmaar)

Maknanya adalah dana yang dibelanjakan untuk tujuan pengelolaan usaha, apakah sifatnya pribadi atau melalui kerjasama. Khusus kerjasama al-mudharabah, dimana salah satu pihak bertindak selaku shahibu al-maal (pemodal atau investor) dan pihak lain mudharib (pengelola atau pengusaha). DI antara dana investasi adalah:

1.      Dana investasi tidak wajib dikembalikan. Artinya pihak ppenguasa dilarang emberikan jaminan pengembalian modal ke pihak investor. Begitupun sebaliknya, pihak pemodal dilarang menuntut pengembalian modal baik sebagian maupun keseluruhan dari pengusaha.

2.      Pihak pengusaha wajib mengelola dana sesuai peruntukan investasinya dengan penuh amanah dan tanggungjawab.

3.      Kedua pihak berhak mendapatkan pembagian keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan.

4.      Dalam hal terjadi kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian pengusaha (human error), maka ia wajib mengembalikan modal senilai kerugian yang ditimbulkannya.

Kategori Kedua: Dana Sosial (tabarru’)

Maksudnya adalah segala dana yang disalurkan untuk tujuan sosial atau untuk meringankan beban orang lain. Apakah dalam bentuk pemberian cuma-cuma seperti hadiah, hibah, shadaqah, wakaf, zakat, dan semisalnya. Di antara karakter dana sosial adalah:

1.      Tidak ada kewajiban pengembalian dana oleh si penerima.

2.      Pemberi dana dilarang meminta imbalan materi berupa uang atau barang lainnya.

3.      Penerima berhak memanfaatkan dana secara pribadi selama tidak pada hal-hal yang diharamkan jika dia dalam bentuk hadiah, hibah, shadaqah dan semisalnya.

4.      Pihak penerima wajib menyalurkan dana sesuai peruntukkannya jika dia dalam bentuk wakaf, wasiat, zakat dan semisalnya.

Ketiga: Dana Pinjaman (qard)

Yaitu segala bentuk dana yang diberikan kepada pihak lain, perseorangan maupun lambaga yang statusnya sebagai hutang. Termasuk di dalamnya pinjaman modl. Adapun karakter dana ini adalah:

1.      Dana wajib dikembangkan kepada pemberi pada waktu yang telah ditentukan.

2.      Penerima berhak menggunakan dana tersebut sesuai kehendaknya selama tidak melanggar syariat.

3.      Fisik dana yang diserahkan saat pengembalian tidak mesti fisik dana yang diterima.

4.      Pihak pemberi diharamkan meminta tambahan atas pokok pinjaman sekecil apapun. Karena termasuk riba yang diharamkan Islam.

Keempat: Dana Titipan (wadi’ah)

Yakni segala dana yang diserahkan oleh seseorang kepada pihak lain untuk tujuan keamanan atau sejenisnya. Beberapa karakteristiknya adalah:

1.      Dana wajib dikembalikan saat pemilik dana memintanya.

2.      Penerima titipan tidak berhak menggunakan dana tersebut dengan segala bentuknya tanpa seizin pemilik dana.

3.      Pihak penerima titipan dapat membebankan biaya jasa penitipan kepada pemilik dana.

4.      Fisik yang diserahkan saat pengembalian adalah fisik dana yang diterima.

Jenis dana beserta karakteristiknya mesti dipahami dengan baik agar terhindar dari pelanggaran-pelanggaran syariat. Selain itu, dapat pula dijadikan pedoman untuk menilai apakah hasil yang diperoleh dari dana tersebut halal atau tidak. Atau apakah ia tergolong riba atau keuntungan usaha.



Sumber : mitrawakaf.com

 

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Pembagian Akad ( Transaksi Bisnis )...

NEXT ARTICLE

Memahami Bid’ah dan Seluk Belukny...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru