Resepsi Pernikahan, Janganlah Berlebih-lebihan


Pernikahan menjadi momen yang membahagiakan bagi setiap orang, terutama mempelai perempuan dan laki-laki beserta keluarga. Karena dipandang sebagai momen yang membahagiakan itulah, mempelai perempuan dan laki-laki beserta keluarga melakukan resepsi sebagai wujud syukur mereka.


Resepsi pernikahan dalam Islam dikenal dengan istilah walimah. Walimah atau resepsi pernikahan merupakan suatu tradisi di kalangan masyarakat pada umumnya. Rasulullah SAW sendiri telah mengajarkan kepada umatnya untuk menyelenggarakan walimah. Perintah Rasulullah  SAW ini disampaikan kepada putrinya, Fatimah RA saat dipinang oleh Ali bin Abi Thalib RA.


"Sesungguhnya pada perkawinan harus diadakan walimah".


Resepsi dilakukan oleh masyarakat dengan berbagai cara dan pilihan tergantung kemampuan dan keinginan dari keluarga mempelai. Ada resepsi yang dilakukan dengan penuh kesederhanan, namun ada pula yang penuh dengan kemewahan. Namun, meskipun penyelenggaraan walimah atau resepsi ini berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan keinginan keluarga, Islam mengajarkan mengenai adab dalam penyelenggaraan walimah. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjerembab dalam perkara yang dilarang.


Adab atau tata cara menyelenggarakan walimah berdasarkan syariat Islam ini dijelaskan oleh Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyyah. Berdasarkan penjelasan, walimah atau resepsi pernikahan harus diselenggarakan dengan niat yang benar.


“Niatkan walimah itu sebagai sunah Rasulullah SAW dan memberi makan orang-orang.” Hal ini dikarenakan, niat yang baik akan menjadi amal saleh sehingga pelaksanaan walimah dapat mendatangkan pahala.


Penjelasan selanjutnya terkait resepsi pernikahan yaitu membuat dan menyediakan hidangan yang sesuai dengan kemampuan. Hal ini sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam kesederhanaan. Rasulullah ketika memiliki rezeki menyembelih kambing sebagai sumber hidangan, namun saat tidak memiliki apa-apa digelar sesuai dengan kemampuan. Contoh pelaksanaan walimah dijelaskan dalam hadist.


Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah SAW mengadakan walimah untuk Zainab, yang tidak pernah diadakan untuk istri-istri beliau lainnya, dan beliau menyembelih seekor kambing." Namun, saat mengadakan walimah dengan Shafiyyah binti Huyay RA, Rasulullah SAW tak menyembelih apapun. Nabi SAW pernah menginap tiga hari di suatu tempat antara Khabir dan Madinah untuk menyelenggarakan perkawinan dengan Shafiyah.


Lebih lanjut dijelaskan, walimah atau resepsi pernikahan oleh Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada agar mengadakan walimah dengan mengundang karib kerabat, tetangga, dan rekan-rekan seagama. Hal ini dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahim, mendatangkan kebaikan, serta melanggengkan kasih sayang dan menambah rasa cinta.


Walimah juga diselenggarakan dengan mengundang berbagai kalangan. Tidak hanya mengundang orang-orang kaya, namun juga orang miskin. Dalam Islam dijelaskan bahwa orang-orang yang mengadakan walimah namun mengabaikan orang miskin, orang tersebut dicap sebagai orang-orang yang sombong. Hal ini dijelaskan dalam hadist Rasulullah sebagai berikut :


"Seburuk-buruknya hidangan adalah makanan walimah, yang diundang untuk menghadirinya hanyalah orang-orang kaya, sedangkan orang-orang fakir tidak diundang..." (HR. Bukhari-Muslim)


Dalam surah Al-A’raaf, Allah berfirman untuk tidak berlebih-lebihan. Maka dari itu, seorang Muslim juga hendaknya tidak melakukan walimah atau resepsi pernikahan yang berlebih-lebihan.


يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf: 31)


Adab selanjutnya terkait melakukan walimah atau resepsi pernikahan yaitu pelaksanaan walimah tidak boleh berisi perkara munkar. Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada menjelaskan bahwa apabila walimah atau resepsi pernikahan berisi hal-hal yang munkar maka para tamu undangan boleh tidak hadir dalam walimah tersebut.


Berbagai penjelasan terkait penyelenggaraan walimah atau resepsi pernikahan dibahas dalam Islam. Bagi orang yang mendapat undangan walimah dianjurkan untuk mendatangi undangan tersebut. Hal ini disampaikan dalam hadist Rasulullah.


"Apabila salah seorang dari kalian diundang ke walimah, hendaklah ia mendatanginya." (HR. Bukhari dan Muslim)


Penyelenggaraan walimah atau resepsi pernikahan boleh dilakukan. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Rasulullah. Namun, penyelenggaraan walimah harus sesuai dengan adab atau tata cara yang telah Islam ajarkan. Dimaksudkan agar penyelenggaraan walimah selain sebagai ungkapan rasa syukur juga mendatangkan pahala bagi orang yang mengadakan. Berhubungan dengan penyelenggaraan walimah atau resepsi pernikahan yang mewah, hal ini tidak dianjurkan karena berlebih-lebihan. Sedangkan Allah tidak menyukai hal-hal yang berlebih-lebihan. Wallahu'alam.


 

Artikel : Azzlam.com

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Mau Menikah? Inilah Mahar yang Baik...

NEXT ARTICLE

Menikah itu Bukan Pernikahan Cinder...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru