Ramadan Mubarak: MEMAHAMI SHALAT TARAWIH

Masih banyak di antara kaum muslimin yang belum paham tentang istilah: Shalat Lail, Shalat Tahajjud, dan Shalat Tarawih. Shalat Lail adalah shalat sunnah yang dilakukan pada waktu malam hari setelah shalat isya sampai dengan sebelum fajar shadiq muncul. Adapun Shalat Tahajjud adalah Shalat Lail yang didahului dengan tidur malam. Dan Shalat Tarawih adalah shalat lail yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Berikut ini penjelasannya secara ringkas.

 

1. Disyariatkannya Shalat Tarawih dengan Berjamaah

Shalat tarawih disyariatkan dengan berjamaah berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha: Bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada waktu tengah malam, lalu beliau shalat di masjid. Lalu shalatlah beberapa orang bersama beliau. Di pagi hari, orang-orang memperbincangkannya. Maka berkumpullah kebanyakan dari mereka. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat di malam kedua, mereka pun shalat bersama beliau. Di pagi hari berikutnya, orang-orang memperbincangkannya kembali. Di malam ketiga, jumlah jamaah yang ada di masjid bertambah banyak. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan melaksanakan shalatnya. Pada malam keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jamaahnya, dan beliau tidak keluar melaksanakan shalat malam sebagaimana sebelumnya kecuali beliau hanya melaksanakan shalat shubuh. Ketika telah selesai melaksanakan shalat shubuh, beliau menghadap kepada jamaah kaum muslimin, kemudian membaca syahadat, dan bersabda:

 

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ شَأْنُكُمُ اللَّيْلَةَ، وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ، فَتَعْجِزُوا عَنْهَا"

 “Amma ba'du, sesungguhnya keadaan kalian tidaklah samar bagiku di malam tersebut (yaitu iman dan semangat kalian dalam beribadah), akan tetapi aku merasa khawatir (ibadah ini) akan diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melakukannya.” [HR. Bukhari no. 882, dan Muslim no. 761]

 

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan syariat telah mantap, maka hilanglah kekhawatiran. Disyariatkannya shalat tarawih berjamaah tetap ada meski telah hilang illat (sebab)nya. Kemudian Khalifah Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu menghidupkan shalat tarawih secara berjamaah kembali, sebagaimana hadits Abdurrahman bin Al-Qari. [HR. Bukhari 4/218, Malik 1/114, dan Abdurrazzaq no. 7723]

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda ketika menekankan untuk berjamaah ketika shalat tarawih. Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

 “Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” [HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani]

 

2. Bilamana Kaum Wanita Shalat Berjamaah di Masjid?

  Pada asalnya, kaum wanita tidak terlarang melaksanakan shalat di masjid.

 Hal ini sesuai dengan keumuman ayat,

 

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ (١٨)

 Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mereka tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS. At-Taubah: 18]

 

Ini juga berdasarkan:

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ كَانَتِ امْرَأَةٌ لِعُمَرَ تَشْهَدُ صَلاَةَ الصُّبْحِ وَالْعِشَاءِ فِى الْجَمَاعَةِ فِى الْمَسْجِدِ، فَقِيلَ لَهَا لِمَ تَخْرُجِينَ وَقَدْ تَعْلَمِينَ أَنَّ عُمَرَ يَكْرَهُ ذَلِكَ وَيَغَارُ قَالَتْ وَمَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْهَانِى قَالَ

 Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Seorang istri Umar radhiallahu ‘anhu ikut shalat shubuh dan isya berjamaah di masjid, lalu istri ini ditanya: “Kenapa engkau pergi (ke masjid) padahal engkau mengetahui bahwa Umar membenci  dan menyemburui hal tersebut?” Istri ini menjawab: “Lalu apa yang menghalangi dia untuk melarangku?” Umar berkata:

 

يَمْنَعُهُ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ

 Yang menghalanginya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jangan kalian larang hamba-hamba Allah perempuan untuk pergi ke masjid-masjid Allah.” [HR. Bukhari dan Muslim, dan ini lafazh dari riwayat Bukhari]

 

Rumah Lebih Afdhal bagi Kaum Wanita daripada Masjid untuk Melaksanakan Shalat.

 Hal ini berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

 Jangan kalian larang istri-istri kalian untuk pergi ke masjid, tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” [HR. Abu Daud dan dihasankan di dalam kitab Irwa Al Ghalil, no. 515]

 

Keluarnya Wanita ke Masjid untuk Shalat Setidaknya Memenuhi Beberapa Syarat.

 

Tidak Memakai Wangi-Wangian

 Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ

 Jangan kalian larang hamba-hamba perempuan Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah akan tetapi hendaknya mereka keluar dalam keadaan tafilat.” [HR. Abu Daud dan dishahihkan di dalam kitab Irwa’ Al Ghalil, no. 515]

 

Makna 'Tafilat' adalah tidak memakai minyak wangi. [Lihat kitab An Nihayah fi Gharib Al Hadits, karya Ibnu Al Atsir]

 

Tidak Menimbulkan Fitnah

 Dari Yahya bin Sa'id, dari ‘Amrah binti ‘Abdirrahman, bahwasannya ia telah mendengar ‘Aisyah radhiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat apa yang dilakukan kaum wanita sekarang, tentu beliau akan melarang mereka pergi ke masjid sebagaimana dilarangnya kaum wanita Bani Israil.” Aku berkata kepada ‘Amrah: “Apakah wanita Bani Israil dilarang pergi ke tempat ibadah mereka?” Ia menjawab: “Benar.” [HR. Bukhari Muslim. Lafadh ini milik Muslim]

 

3. Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

 

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah rakaat tarawih.

 Namun selama pendapat-pendapat tersebut dilandasi dengan dalil yang shahih, maka tetap dapat dipakai dan diterima. Dan bahkan itu menunjukkan keluasan syariat Islam.

 

Jumlah rakaat yang disebutkan melalui hadits-hadits shahih adalah 13 rakaat, 11 rakaat dan 9 rakaat.

 Diriwayatkan secara shahih dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasannya beliau tidak pernah melakukan shalat lail/tahajjud/tarawih melebihi 11 rakaat, yaitu dengan perkataannya:

 

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

 Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihkan (jumlah rakaat) pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada selain bulan Ramadhan dari 11 rakaat.” [HR. Bukhari dan Muslim 736]

 Adapun riwayat yang menyebutkan 13 rakaat (Muslim no. 737, Ahmad no. 2987, Abu Dawud no. 1338, dan Tirmidzi no. 442) tidak bertentangan dengan hadits ‘Aisyah di atas. Sebab, 13 rakaat tersebut dihitung termasuk 2 rakaat ringan dari shalat rawatib ba'diyyah isya. Untuk pembahasan selengkapnya, silakan merujuk pada kitab Qiyaamu Ramadhan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah.

 

4. Shalat Tarawih dengan 23 Rakaat

 Pendapat yang menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih adalah 23 rakaat adalah pendapat yang lemah (dhaif) berdasarkan penelitian dari para pakar ahli hadits. Di antara hadits yang dijadikan hujjah di antaranya adalah:

 

Dari Yazid bin Ruman beliau berkata: “Manusia menegakkan (shalat tarawih) di bulan Ramadhan pada masa ‘Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu 23 rakaat.” [Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa no. 252]

 Sanad hadits ini terputus (munqathi’). Imam Al-baihaqi berkata: “Yazid bin Ruman tidak menemui masa Umar” (Nashbur-Rayah 2/154). Kesimpulannya, hadits ini lemah (dhaif).

 

Dari Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman dari Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat dan witir.” [HR. Thabarani dalam Mu'jamul-Ausath no. 802, dan 1/243, dan dalam Al-Mu'jamul-Kabiir no. 11934]

 

Imam Ath-Thabrani rahimahullah berkata: “Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini kecuali Abu Syaibah dan tidaklah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas kecuali dengan sanad ini saja.” [Al-Mu'jamul-Ausath 1/244]

 Dalam Kitab Nashbur-Rayah (2/153) dijelaskan: “Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman adalah perawi yang lemah menurut kesepakatan, dan dia telah menyelisihi hadits yang shahih riwayat Abu Salamah, sesungguhnya beliau bertanya pada ‘Aisyah: Bagaimana shalat Rasulullah di bulan Ramadhan? (yaitu dalil pada poin b di atas). Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini palsu (maudhu’).” [lihat Adh-Dha'iifah 2/35 no. 560 dan Irwaaul-Ghalil 2/191 no. 445]

 

Dari Dawud bin Qais dan yang lainnya, dari Muhammad bin Yusuf, dari As-Sa'ib bin Yazid ia berkata: “Umar radhiallahu ‘anhu mengumpulkan orang-orang di bulan Ramadhan (untuk melaksanakan shalat tarawih) yang diimami oleh Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad-Daari dengan 21 rakaat. Mereka membaca (surat-surat) Al-Mi'iin (surat yang berjumlah lebih dari 100 ayat) dan pulang di ambang fajar.” [Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 7730]

 Atsar ini pun tidak terlepas dari kelemahan, di antaranya adalah bahwa orang-orang yang meriwayatkan dari ‘Abdurrazzaq lebih dari satu orang, salah satunya adalah rawi yang bernama Ishaq bin Ibrahim bin ‘Abbad Ad-Dabari. Di sinilah letak kelemahannya. Ishaq telah menyalahi riwayat orang yang lebih tsiqah (terpercaya) daripada dia. Walhasil, hadits ini pun berderajat munkar dan mushahhaf (keliru).

 

 Catatan:

Apabila kaum muslimin tetap bersikeras melakukan shalat tarawih dengan 23 rakaat (walaupun pendapat ini sebagaian ulama melemahkan), maka mereka tetap harus mengerjakannya secara thuma'ninah. Karena tidak jarang mereka yang melakukan 23 rakaat, shalat tarawih dilakukan dengan sangat cepat dan tidak thuma'ninah. Dan bahkan ada di antara mereka yang membaca Al-Fatihah dengan satu nafas.

 

Padahal Allah telah memerintahkan dalam membaca Al-Quran:

 

وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا (٤)

 Dan bacalah Al-Quran itu secara perlahanlahan/tartil.” [QS. Al-Muzammil: 4]

 Di antara mereka juga ada yang melakukan rukuk dan sujud seperti patukan ayam (karena cepatnya -tidak thuma'ninah-), padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Tidak sah shalat seseorang hingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud.” [HR. Abu Dawud no. 855, Nasa’i dalam Al-Kubra no. 699, Tirmidzi no. 265, dan Ibnu Majah no. 870, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykatul-Mashaabih 1/153]

 

Beliau pernah melihat seorang laki-laki yang tidak menyempurnakan ruku'nya dan mematuk di dalam sujudnya ketika shalat. Kemudian beliau bersabda, “Sekiranya orang ini mati dalam keadaan seperti ini, niscaya ia mati bukan pada millah (agama) Muhammad (karena ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah). Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematuk di dalam sujudnya seperti orang yang lapar makan satu buah kurma dan dua buah kurma yang tidak memberikan manfaat apa-apa baginya.” [HR. Abu Ya’la dalam Musnad 340/1, 349/1, dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabiir 1/192/1 dengan sanad hasan. Lihat Ashlu Shifati Shalatin-Nabiyy oleh Syaikh Al- Albani halaman 642]

 Maka selayaknyalah kaum muslimin tetap melaksanakan dengan khusyu’, thuma'ninah, dan sesuai dengan contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 



Referensi:

Ensiklopedi Fiqh Praktis Menurut Al-Quran dan As-Sunnah. Karya Syaikh Husain bin 'Audah Al-'Awaisyah.

Meneladani Rasulullah dalam Berpuasa & Berhari Raya. Karya Syaikh Ali bin Hasan & Syaikh Salim bin Ied al Hilali.

Disusun oleh: Akhukum Fillah Abu Muhammad Royhan hafidzahullah

Disalin dari : Permata Sunnah

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Ramadan Mubarak: CARA PENENTUAN BU...

NEXT ARTICLE

Ramadan Mubarak: Amalan di Waktu Sa...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru