Ramadan Mubarak: 8 KEUTAMAAN PUASA

Seseorang yang berpuasa dengan berharap ridho Allah tidak akan merasa lelah, bahkan ia akan mendapatkan keutamaan sebagai berikut: 

 

1. Puasa sebagai perisai

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada orang yang diliputi nafsu birahi untuk menikah. Jika dia tidak mampu untuk melaksanakannya, maka ia diperintahkan berpuasa untuk mengekang nafsu syahwatnya. Sebab puasa bisa menahan gejolak anggota tubuh dengan kelemahannya sehingga dapat mengekangnya dari tindakan.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

 

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu (ba'ah), maka hendaknya dia menikah, karena menikah itu dapat menjaga pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu untuk menikah, maka hendaknya dia berpuasa, karena puasa itu bisa menjadi perisai baginya.” [HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas'ud radhiallahu ‘anhu]

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menjelaskan bahwa surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai kesenangan syahwat. Oleh sebab itu, jelaslah kiranya bagi kita bahwa puasa itu dapat mementahkan syahwat dan menumpulkan ketajamannya yang bisa mendekatkan kepada api neraka, dan puasa itu bisa menjadi penyekat antara orang yang berpuasa dengan neraka. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

 

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

 

“Puasa itu adalah perisai yang dapat melindungi diri seorang hamba dari api neraka.” [HR. Ahmad no. 15299, hasan lighairihi. Lihat Shahih At-Targhib no. 981]

 

Dan tentunya, hanya puasa yang ikhlash dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya sajalah yang dapat menjadi perisai dari api neraka. Dari Abu Sa'id radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

 

“Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun.” [HR. Bukhari no. 2840]

 

2. Puasa dapat memasukkan seseorang ke dalam surga

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa puasa itu dapat menjauhkan diri dari api neraka, yang otomatis dapat mendekatkan pelakunya kepada surga, bi-idznillah. Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga." Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab: “Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)-nya.” [HR. Nasa'i dalam Al-Kubraa no. 2530. Lafadh ini adalah milik Ibnu Hibban. Lihat Shahih Sunan An-Nasa'i no. 2097]

 

3. Orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala tak terhitung nilainya

 

4. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan

 

5. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di hadapan Allah Ta'ala daripada bau misk (kesturi)

 

Untuk poin 3, 4, dan 5 dalilnya adalah dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ ,وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ. وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ صَوْمِهِ.

 

"Semua amal perbuatan anak Adam untuk dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku lah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji (cabul) dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya." [Muttafaq ‘alaihi, dan ini lafazh al-Bukhari]

 

6. Puasa dan Al-Quran akan memberi syafaat bagi orang yang menjalankannya

 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

 

"Puasa dan Al-Quran itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak. Puasa akan berkata, ‘Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’. Dan Al-Quran pula berkata, ‘Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan.’" [HR. Ahmad no. 6626. Lihat Shahih At-Targhib no. 984]

 

7. Puasa sebagai kaffarat (penebus dosa)

 

Diantara keutamaan yang hanya dimiliki oleh ibadah puasa adalah bahwa Allah ta'ala telah menjadikan puasa sebagai penebus dosa bagi orang yang mencukur kepala dalam ihram karena ada halangan baginya, baik karena sakit atau karena gangguan yang terdapat pada kepala [lihat QS. Al-Baqarah: 196].

 

Dan puasa juga dapat menjadi kaffarat karena tidak mampu memotong hewan kurban [QS. Al-Baqarah: 196], membunuh seseorang yang berada dalam perjanjian karena kesalahan atau tidak sengaja [QS. An-Nisaa’: 92], melanggar sumpah [QS. Al-Maaidah: 89], membunuh binatang buruan pada saat ihram [QS. Al-Maaidah: 95], dan zhihar [QS. Al-Mujaadilah: 3-4]. 

 

Demikian halnya dengan puasa dan shadaqah, keduanya berperan serta dalam penebus pelanggaran dosa seseorang, baik di dalam keluarga, harta, atau tetangga. Dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

 

“Keluarga, harta, dan anak dapat menjerumuskan seseorang dalam maksiat (fitnah). Namun fitnah itu akan terhapus dengan shalat, shaum, shadaqah, amar ma'ruf (mengajak pada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran).” [HR. Bukhari no. 502, dan Muslim no. 144]

 

8. Ar-Rayyan disediakan bagi orang-orang yang berpuasa

 

Dari Sahl bin Sa'ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

 

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

 

"Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, ‘Mana orang yang berpuasa?’ Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.” [HR. Bukhari no. 1797, dan Muslim 1152]

 

Dalam riwayat Bukhari dari Sahl bin Sa'ad juga disebutkan,

 

فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ

 

"Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa." [HR. Bukhari]

 

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Referensi:

• Ensiklopedi Fiqh Praktis Menurut Al-Quran dan As-Sunnah. Karya Syaikh Husain bin 'Audah Al-'Awaisyah.

• Meneladani Rasulullah dalam Berpuasa & Berhari Raya. Karya Syaikh Ali bin Hasan & Syaikh Salim bin Ied al Hilali.

Disusun oleh: Akhukum Fillah Abu Muhammad Royhan hafidzahullah

Disadur dari: Permata Sunnah

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Ramadan Mubarak: HUKUM DAN KEISTIM...

NEXT ARTICLE

Ramadan Mubarak: CARA PENENTUAN BU...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru