Petunjuk Nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam Ketika Musim Hujan

Musim hujan telah mulai membasahi negeri kita beberapa waktu belakangan ini. Hujan adalah berkah dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk makhluknya. Sevagai umat muslim, kita perlu tahu pengetahuan dibalik rahmat Allah ini, maka berikut ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan sebagai bekal pengetahuan bagi kita semua :

1.    *Tidak ada yang mengetahui waktu datangnya hujan kecuali hanya Allaah 'Azza wa Jalla.*

 Sebagaimana firman-Nya :

*إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير*ٌۢ

*"Sesungguhnya Allaah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allaah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."* (QS Luqman [31]: 34)

  Adapun prediksi/prakiraan hujan yang diperoleh dari hasil penelitian tentang keadaan cuaca, maka itu boleh dan tidak termasuk ilmu gaib, tetapi dengan catatan tidak boleh memastikan prediksi tersebut karena bisa jadi benar dan bisa jadi salah.

2.    *Tidak boleh menisbahkan hujan kepada selain Allaah Ta'ala, karena ini adalah suatu kekufuran.*

 Suatu saat, pernah turun hujan pada zaman Nabi Shallallaahu ’alaihi wa Sallam, maka beliau bertanya kepada para sahabat Radhiallaahu’ anhum :

*هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ*

*“Tahukah kalian apa yang Allaah Ta'ala firmankan?” Mereka berkata, “Allaah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Allaah Ta'ala berfirman : Pagi ini ada di antara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap-Ku. Adapun yang mengatakan, ‘Kita diberi hujan karena anugerah dan rahmat Allaah’ maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Adapun yang mengatakan, ‘Kita diberi hujan karena bintang jenis ini dan itu’ maka dialah yang kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang.”* (HR Bukhari-Muslim)

3.    *Disunnahkan untuk membuka sebagian anggota badan agar terkena rahmat dan barakah air hujan, sebab Nabi Shallallaahu ’alaihi wa Sallam pernah melakukan hal itu.*

*قَالَ أَنَسٌ أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَطَرٌ قَالَ فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ. فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا قَالَ « لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى ».*

*Anas Radhiallaahu ’anhu berkata, “Suatu saat, hujan turun ketika kami bersama Nabi Shallallaahu ’alaihi wa Sallam, maka beliau   membuka pakaiannya sehingga terkena air hujan. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullaah, kenapa engkau melakukan hal itu?’ Beliau menjawab, ‘Karena air hujan ini masih baru datang dari Rabb-nya.’”* (HR Muslim)

4.    *Air hujan adalah air yang suci dan menyucikan.*

 Allaah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

*وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ ٱلرِّيَـٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ طَهُورًۭا*

*"Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih."* 
*(
QS al-Furqan [25]: 48)*

Oleh karenanya, apabila badan kita, baju kita, atau kendaraan kita terkena air hujan maka hukum asalnya adalah suci dan tidak najis. Dahulu, para ahli fiqih mengatakan, _“Asal hukum air adalah suci.”_

5.    *Musim hujan jangan menjadikan kita malah malas beribadah, bahkan hendaknya semakin meningkatkan semangat kita, sebab pahalanya semakin berlipat.*

 Dalam hadits, Rasulullaah Shallallaahu ’alaihi wa Sallam bersabda :

*أَمَّا الْكَفَّارَاتُ فَإِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ فِي السَّبَرَاتِ وَ انْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَ نَقْلُ الأَقْدَامِ إِلَى الْجُمُعَةِ*

*“Adapun pelebur dosa adalah menyempurnakan wudhu saat dingin yang sangat dan menunggu shalat ke shalat berikutnya serta melangkahkan kaki ke Jum’at.”* (HR ath-Thabarani dalam al-Kabir dan dishahihkan al-Albani)

6.    *Ketika ada hujan atau angin kencang yang sekiranya memberatkan jama’ah untuk berangkat ke masjid, maka disyari’atkan bagi muadzin untuk mengatakan ( أَلاَ صَلُّوْا فِيْ رِحَالِكُمْ) artinya: "Shalatlah di rumah-rumah kalian."*

 Hal ini berdasarkan hadits :

*عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ ثُمَّ قَالَ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ . ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ ذَاتُ بَرْدٍ وَمَطَرٍ يَقُولُ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ*

*"Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar Radhiallaahu ’anhuma pernah adzan pada suatu malam yang dingin dan angin lalu dia mengatakan, “Shalatlah di rumah-rumah kalian.” Kemudian dia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullaah Shallallahu ’alaihi wa Sallam memerintahkan muadzin apabila malam yang dingin dan hujan untuk mengatakan, ‘Shalatlah di rumah-rumah kalian.’”.*

 Dan para ulama berselisih pendapat tentang letaknya; ada yang mengatakan setelah _Asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah,_ ada yang mengatakan setelah _Hayya ’alal falah,_ ada yang mengatakan setelah usai adzan _Laa ilaha illallaah._ Pendapat yang benar bahwa semuanya boleh karena semunya ada dalilnya, sekalipun yang terakhir lebih disukai agar urutan adzan tetap terjaga.

7.    *Adanya hujan deras yang memberatkan bagi manusia, membolehkan mereka untuk tidak shalat jama’ah di masjid padahal hukum asalnya adalah wajib, karena adanya rukhshah dari Nabi Shallallaahu ’alaihi wa Sallam. Dan boleh bagi imam masjid bersama makmumnya untuk menjamak antara dua shalat  jika hal itu dibutuhkan selagi tidak dijadikan adat kebiasaan. Karena jamak shalat itu disyari’atkan untuk menghilangkan keberatan dan kesulitan pada umat manusia.*

*عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ. فَقِيلَ لاِبْنِ عَبَّاسٍ مَا أَرَادَ إِلَى ذَلِكَ قَالَ أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَه*

*"Dari Ibnu Abbas Radhiallaahu’anhuma berkata, “Rasulullash Shallallaahu ’alaihi wa Sallam menggabung antara Zhuhur dan Asar, juga Maghrib dan Isya‘ di Madinah tanpa ada takut dan hujan.” Dikatakan kepada Ibnu Abbas Radhiallaahu’anhuma, “Apa yang diinginkan Nabi Shallallaahu ’alaihi wa Sallam dengan itu?” Ibnu Abbas Radhiallaahu’anhuma menjawab, “Nabi Shallallaahu’alaihi wa Sallam ingin untuk tidak memberatkan umatnya.”*

 Imam Nawawi _Rahimahullaahu Ta’ala_ mengatakan, _“Sejumlah ulama berpendapat bolehnya jamak karena ada kebutuhan sekalipun tidak dalam kondisi safar. Inilah pendapat Ibnu Sirin dan mayoritas Ahli Hadits dan dipilih Ibnul Mundzir.”_ (Syarh Muslim 5/219)

 Demikianlah beberapa petunjuk Nabi Shallallaahu ’alaihi wa Sallam ketika musim hujan tiba. Semoga kita bisa mengamalkannya sehingga musim hujan membuahkan pahala.


 
Sumber : Asy-Syamil.com

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Hormati yang Lebih Tua, Sayangi yan...

NEXT ARTICLE

10 Keutamaan dan Hikmah Shalat

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru