PEDOFILIA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

 



Pedofilia adalah penyimpangan seksual yang subur di masyarakat yang menganut seks bebas. Semakin bebas aksi seksualitas maka semakin subur perilaku pedofilia tersebut.

Banyak di antara pelaku yang mengaku bahwa aksinya disebabkan dorongan syahwat dalam dirinya. Maka semakin subur pemicu syahwat, semakin banyak syahwat yang terpicu dan memerlukan pemenuhan, dan semakin beragam cara pemenuhannya. Diantaranya melakukan pelecehan seksual terhadap anak.

Banyaknya kasus pedofilia di Indonesia ini menunjukkan pertumbuhan budaya seks bebas di negeri ini sudah mencapai tingkat yang memprihatinkan sekaligus mengerikan.

Islam tidak menganjurkan hukuman kebiri karena menjatuhkan hukuman kebiri bagi pelaku pedofilia hukumnya haram. Tentu saja para ulama tidak serta merta mengeluarkan fatwa tanpa tahap penelitian dan pembahasan panjang, justru para ulama telah membahas dan meneliti permasalahan ini selama berpuluh-puluh tahun sejak ratusan tahun yang lalu.

Kebiri memiliki arti, adalah pemotongan dua buah dzakar , yang dapat dibarengi dengan pemotongan penis (dzakar). Jadi kebiri dapat berupa pemotongan testis saja, dan inilah pengertian dasar dari kebiri. Namun adakalanya kebiri berupa pemotongan testis dan penis sekaligus. Kebiri bertujuan menghilangkan syahwat dan sekaligus menjadikan mandul.

Menjatuhkan hukuman pengebirian bagi pelaku pedofilia hukumnya haram, berdasarkan 2 (dua) alasan sebagai berikut;


Pertama, Dalil haramnya pengebirian pada manusia adalah hadits-hadits sahih yang dengan jelas menunjukkan larangan Rasulullah SAW terhadap pengebirian. Dari Sa?ad bin Abi Waqqash RA, dia berkata?Rasulullah SAW telah menolak Utsman bin Mazh?un RA untuk melakukan tabattul (meninggalkan kenikmatan duniawi demi ibadah semata). Kalau sekiranya Rasulullah SAW mengizinkan Utsman bin Mazh?un untuk melakukan tabattul, niscaya kami sudah melakukan pengebirian.? (HR Bukhari no 5073; Muslim no 3390).

Dari Ibnu Mas?ud RA, dia berkata,?Dahulu kami pernah berperang bersama Nabi SAW sedang kami tidak bersama isteri-isteri. Lalu kami berkata (kepada Nabi SAW),?Bolehkah kami melakukan pengebirian?? Maka Nabi SAW melarang yang demikian itu. (HR Bukhari no 4615; Muslim no 1404; Ahmad no 3650; Ibnu Hibban no 4141). (Taqiyuddin An Nabhani, An NizhamAl Ijtima?i fi Al Islam, hlm. 164; Al Mausu?ah Al Fiqhiyyah, 19/119)

Kedua, syariah Islam telah menetapkan hukuman untuk pelaku pedofilia sesuai rincian fakta perbuatannya, sehingga tidak boleh melaksanakan jenis hukuman di luar ketentuan Syariah Islam itu. (Lihat QS Al Ahzab [33]: 36).

Rincian hukuman untuk pelaku pedofilia sbb;

(1) jika yang dilakukan adalah perbuatan zina, hukumannya adalah hukuman untuk pezina (had az zina), yaitu dirajam jika sudah muhshan (menikah) atau dicambuk seratus kali jika bukan muhshan;

(2) jika yang dilakukan adalah liwath (homoseksual), maka hukumannya adalah hukuman mati, bukan yang lain;

(3) jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual (at taharusy al jinsi) yang tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual, hukumannya ta?zir. (Abdurrahman Al Maliki, Nizhamul ?Uqubat, hlm. 93).

Memang benar, hukuman untuk pelaku pedofilia yang hanya melakukan pelecehan seksual (at taharusy al jinsi), adalah hukuman ta?zir, yang dapat ditentukan sendiri jenis dan kadarnya oleh hakim (qadhi). Misalnya dicambuk 5 kali cambukan, dipenjara selama 4 tahun, dsb. Pertanyaannya, bolehkah hakim menjadikan pengebirian sebagai hukuman ta?zir?

Jawabannya, tidak boleh (haram). Sebab meski hukuman ta?zir dapat dipilih jenis dan kadarnya oleh hakim, tetapi disyaratkan hukuman ta?zir itu telah disahkan dan tidak dilarang oleh nash-nash syariah, baik Al Qur`an maupun As Sunnah. Jika dilarang oleh nash syariah, haram dilaksanakan. Misalnya, hukuman membakar dengan api. Ini haram hukumnya, karena terdapat hadits sahih yang melarangnya (HR Bukhari) (Abdurrahman Al Maliki, Nizhamul ?Uqubat, hlm. 81). Maka demikian pula, menjatuhkan ta?zir berupa pengebirian diharamkan, karena telah terdapat hadits-hadits sahih yang melarang pengebirian

 

PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL DAN PENGASUHAN ANAK DALAM ISLAM


Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang terjadi di negeri ini banyak mengundang keprihatinan banyak pihak, terlebih hal ini sudah mulai merambah dunia online. Penutupan atau pembatasan penggunaan teknologi dinilai tidaklah bijaksana karena tidak lantas menyelesaikan ancaman kekerasan kepada anak. Disinilah diperlukan peran aktif orangtua untuk membimbing dan mengawasi anak dalam berinteraksi secara online.

Orang tua juga dianjurkan untuk lebih berinteraksi dan lebih intens berkomunikasi dengan anak sehingga tidak ada gap atau celah yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan seksual.

Dalam Islam, sesungguhnya anak-anak adalah titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta?ala kepada kita. Bagi orangtua, anak adalah segala-galanya. Wajarlah apabila Rasulullah bersabda :


Artinya:  ?anak itu adalah buah hati?  (HR. Abu Ya?la) 

Sebagai titipan-Nya, anak juga merupakan harta dan perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.


Artinya : ?Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan?.

Merekalah kelak yang akan menjadi pengaman dan pelopor masa depan agama dan bangsa. Orangtua sangat dibutuhkan anak dalam mencurahkan segala kasih sayangnya sehingga muncul kedekatan hubungan antara anak dan ayah ibunya. Anak juga merupakan ujian bagi setiap orangtua sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur?an surah al-Anfal ayat 28 yang berbunyi :

     

Artinya :?Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allahlah pahala yang besar.? (QS.al-Anfal ayat 28).

 

Ayat tersebut diatas,menjelaskan salah satu ujian yang diberikan Allah kepada orang tua adalah anak-anak mereka. Itulah sebabnya setiap orangtua hendaklah benar-benar bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan Allah SWT.

Orang tua mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga mereka, baik kehidupan jasmaninya, rohaninya dan mentalnya. *(Azzlam)


SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Meluangkan Waktu Mendiskusikan Pers...

NEXT ARTICLE

TRAVELLING CHICAGO

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru