Menikah Muda dalam Pandangan Islam



Menikah di usia muda mungkin merupakan hal biasa bagi sebagian orang, namun tidak bagi kalangan orang tertentu. Masih banyak masyarakat kota yang cenderung menganggap menikah muda adalah hal yang tabu. Ketika ada yang menikah pada usia muda banyak sekali kecurigaan atau prasangka dari masyarakat, serta menyangsikan banyak hal kepada pasangan suami istri tersebut.


Islam mengatur segala sisi kehidupan umatnya. Salah satunya adalah dalam hal pergaulan, yaitu membatasi pergaulan antara wanita dan pria. Salah satu dosa besar dalam Islam adalah melakukan zina. Bahkan, mendekatinya saja sudah dilarang. Namun Islam menganjurkan untuk menikah kepada mereka yang telah mampu. Sesuatu yang baik haruslah disegerakan. Salah satunya adalah menikah. Berikut beberapa firman Allah ta’ala dalam Al-Qur’an:

 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [QS. Ar-Ruum : 21]


Dalam surat yang lain juga turut dijelaskan bahwa:


 “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. An-Nuur : 32]


Hikmah disyariatkannya pernikahan adalah menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta dalam rangka memperoleh keturunan yang baik. Menjaga keturunan (hifz al-nasl) adalah salah satu tujuan diturunkannya syariat Islam. Maka kemampuan menjaga keturunan tersebut juga dipengaruhi usia calon mempelai yang telah sempurna akalnya dan siap melakukan proses reproduksi.


Menurut syariat Islam, usia kelayakan pernikahan adalah usia kecakapan berbuat dan menerima hak (ahliyatul ada' wa al-wujub). Islam tidak menentukan batas usia namun mengatur usia baligh untuk siap menerima pembebanan hukum Islam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


 “Wahai kaum muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” [Shahiih al-Bukhari (IX/112, no. 5066)]


Menikah adalah sebuah sunnah nabi, maka bagi yang telah mampu secara psikis, akal, dan materi sangat dianjurkan untuk menikah. Karena menikah dapat menjaga dari dosa-dosa zina dan fitnah. Selain itu, hasil riset National Marriage Project’s 2013 di Amerika Serikat (AS) juga menunjukkan, persentase tertinggi orang yang merasa sangat puas dengan kehidupan pernikahan adalah mereka yang menikah di usia 20-28 tahun.


Mengapa pasangan muda lebih bahagia? Sebab mereka umumnya belum memiliki banyak ego-ambisi. Pasangan muda lebih mudah menerima pasangan hidupnya. Bahkan, ketika sang suami belum terlalu mapan secara ekonomi dan akibatnya hidup “pas-pasan”, mereka tetap bisa enjoy dengan kondisi tersebut.


Pertimbangan lainnya, menikah di usia muda dan memiliki buah hati di usia muda, saat kita mungkin belum mapan ekonomi secara penuh, berarti kita berpeluang untuk dapat mendidik anak-anak kita secara langsung merasakan pahit getirnya kehidupan. Artinya mereka telah mencicipi perjuangan hidup sedari dini sehingga diharapkan akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan tidak manja. Selain itu, kita juga masih memiliki kondisi fisik yang prima untuk membesarkan anak-anak dengan optimal.


Namun demikian, ada beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan dan juga disiapkan sebelum seorang muslim hendak menikah muda. Tentunya pertimbangan dari masing-masing orang bisa berbeda, akan tetapi hendaknya memahami secara universal yang harus diperhatikan menuju persiapan menikah, yakni di antaranya seperti meluruskan niat, kompetensi atau pemahaman yang mumpuni tentang ilmu keluarga, kesiapan karir, serta kedewasaan dan kematangan diri.


Hal-hal tersebut akan sangat menunjang kualitas dan kesuksesan pernikahan seorang muslim kelak. Menikah muda bukan hanya karena perkara dorongan akan kebutuhan biologis saja, melainkan pula perkara komitmen serta tanggung jawab dari masing-masing peran suami istri membangun bahtera rumah tangga dan keluarga. Menikah muda adalah tentang mempersiapkan diri lebih dini, sehingga mampu belajar lebih banyak dengan waktu kehidupan dunia yang senantiasa semakin sempit ini.

 

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.” [H.R. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160]

 

Artikel :  Azzlam.com

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Tadabbur QS Al Ankabut ( Laba-Laba ...

NEXT ARTICLE

Mau Menikah? Inilah Mahar yang Baik...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru