Menikah itu Bukan Pernikahan Cinderella



(Bedah Buku "Bukan Pernikahan Cinderella" Karya Ust. Iwan Januar)


Yang banyak menjadi masalah adalah kita terbiasa membaca kisah-kisah peri. Seperti Snow white, dan yang paling berkesan adalah kisah Cinderella. Sebetulnya tidak masalah, yang jadi masalah adalah ketika menjadikannya sebagai gambaran dalam pernikahan. Kayanya pernikahan gampang banget, kayanya simple banget. Gak ada cerita bbm naik, gak ada cerita kartu BPJS belum jadi.

Karena itulah kita terbawa imajinasi bahwa pernikahan seindah itu. Maka kita harus kembali pada ideologi kita, kepada way of life kita. Kepada agama kita. Kita sangat beruntung, kita berada pada agama yang ada tujuannya. Ini penting, karena pernikahan kalau tau tujuannya, setiap masalah pasti ada solusinya.

 

Tujuan Menikah

 

Setiap orang yang menikah harusnya punya tujuan. Sama seperti kuliah, kenapa kita masuk jurusan teknik. Harus ada tujuannya. Karena kalau kita menikah tanpa tujuan, sangat rugi banget. Kita sudah berkomitmen dengan istri dengan walinya lalu kemudian tidak punya tujuan ini berat banget.

Kalau tujuan menikah hanya sekedar having fun. Maka carilah pasangan yang suka dugem. Kalau tujuan menikah hanya sekedar ingin punya kekuasaan. Maka carilah politisi atau para pejabat. Maka ketika menikah harus punya tujuan. Bagaimana suami ingin diperlakukan istri, pun sebaliknya. 

Maka ini bagian dari tujuan. Bahwa apapun yang kita lakukan harus punya tujuan. Termasuk nanti ketika sudah punya anak juga harus punya tujuan.

QS Ali Imran yang menceritakan curhatan perempuan istrinya Imran, yang bila punya anak ingin diserahkan kepada Allah SWT menjadi orang yang taat.  Juga doa Nabi Zakariya.

Jadi kalau kita mau menikah harus punya tujuan jangka panjang. Banyak yang pernikahannya tidak bertahan lama. Dan yang ironis bila pernikahan berakhir dengan perceraian hanya karena masalah sepele.

 

Impian Vs Kenyataan

 

Makanya yang tadi saya bilang bahwa kita terbiasa dengan dongeng-dongeng peri. Sehingga membayangkan kalau aku nikah, aku dapat suami yang saleh yang tampan, yang baik.

Nanti kalau hamil dibuatin minum, dipijat. Nah yang laki-laki juga membayangkan istrinya kalau cantik menyenangkan, betah dirumah.

Karena laki-laki itu memang makhluk visual, designer, fotografer kebanyakan laki-laki. Apalagi kalau kita punya obsesi.  Ketika bulan pertama masih baru masih indah. Nah masuk bulan kedua, bulan ketiga mulai terbuka. Perlu saya ingatkan bahwa menikah itu proses. Tahun pertama. Tahun kedua. Pada saat istri hamil, kondisinya beda, emosionalnya beda lagi, maka perlu adaptasi lagi. Pun saat kondisi pms, tentu berbeda, laki-laki tidak merasakan kondisi saat perempuan mengalami ini.

Sehingga perlu waktu dan kesabaran. Akan muncul nanti istri masa-masa "netes" (nangis maksudnya), kenapa abang gak ngerti perasaan aku sii. Nahh yang kaya gini gini. Maka persiapkan diri, banyak baca buku.

 

Penghasilan

Biasanya, mohon maaf ketika biasa hidup serba ada. Lalu kemudian menikah meniti dari nol. Tinggal di rumah kontrakan, kemudian si istri menanyakan kenapa harus tinggal disini. Ini kan masalah. Kalau dulu masih tinggal bersama orang tua, mungkin semua sudah disiapkan. Termasuk ketika misal sepatu rusak, tinggal ajak ayah, langsung jalan ke mall. Tapi ketika menikah, harus izin dulu sama suami..

Konsep pemilihan kebutuhan, juga jadi masalah,  karena ada juga suami yang royal, apapun dibeli. Tapi ada juga istri yang begitu berhemat, sehingga ini bisa jadi masalah.

 

Pekerjaan

Kalau istri tidak paham tentang ketaatan kepada suami.  Ini juga persoalan. Ada juga yang suami terlalu asik dengan pekerjaannya, pergi pagi sekali bahkan sholat subuh pun di jalan, lalu pulangnya larut malam.

Karena mindset laki-laki, dengan ia bekerja, sehingga punya uang, maka akan bisa membahagiakan istri dan anak-anak. Padahal belum tentu dari sisi istri.

 

Anak

Sebelum dan sesudah punya anak pun sesuatu yang harus dipersiapkan.  Ada yang sudah menikah, kemudian banyak yang tanya sudah hamil atau belum. Punya anak ataupun tidak, ya bisa jadi masalah. Maka kita harus punya ilmunya.

Sebagaimana nasihat Nabi SAW, wahai orang2 beriman, perhatikanlah diantara istri dan anak-anak mu bisa menjadi musuh. Sesungguhnya harta dan anakmu adalah fitnah.

Pesan Nbai SAW juga, bahwa fitnah seorang laki-laki itu diantaranya meliputi:

A. Harta

B. Keluarga

C. Istri

D. Anak

 

Rumah

Ketika sudah punya anak, ingin rumah yang lebih besar. Dan rumah mau bagaimanapun kondisinya adalah termasuk kebutuhan utama. Oleh karenanya rumah ini menjadi masalah. 


Hukum

Tingkat perceraian paling tinggi, karena faktor ekonomi terutama hutang. Hutang yang terlibat riba, karena hilangnya kebarokahan, sehingga berdampak juga pada rumah tangganya. Hati-hatilah dalam keuangan riba.

 

4 Langkah Menuju SAMARA ( Sakinah, Mawaddah, Rahmah )

 

1. Visi dan Misi

Fokuslah pada visi dan misi keluarga BAHAGIA DUNIA AKHIRAT dan menegakan KALIMATULLAH. Dengan punya visi dan misi, sehingga kita punya bisa gambaran pasangan yang seperti apa. Kita bisa lihat bagaimana kisah Anas bin Malik, laki-laki seperti engkau tidak pantas di tolak, tapi sayang engkau masih musyrik.

Nah beliau punya visi pernikahan, sehingga tau dia mau mendampingi laki-laki yang seperti apa. Karena pernikahan bukan jangka pendek. Sehingga carilah pasangan yang bisa membawa kita dalam jalan Allah SWT..

 

2. Pasangan Pembelajar

 Pernikahan adalah PROSES yang harus terus berjalan dengan pembelajaran sepanjang hayat. Perempuan harus paham tentang kehamilan, melahirkan, pengasuhan anak. Laki-laki harus tau tentang perwalian, pengasuhan anak, dll..

Karena ketika laki-laki menggauli istrinya akan muncul 300 hukum, diantaranya kehamilan melahirkan , penyusuan. Maka rumah tangga harus terus belajar.

 Dan nasihat Nabi SAW, 

Berlaku lemah lembut lah kepada kaca. Karena perempuan lah seperti itu. Perempuan makhluk halus, artinya dalam penggunaan bahasa berbeda dengan laki-laki. Dan kita harus memahaminya.

 Dan perempuan juga harus mengerti bahwa laki-laki juga adalah makhluk yang keras. Sehingga kalau punya anak, didiklah anak menjadi singa. Banyak yang saat ini salah dalam pengasuhan anak, termasuk karena ketidakhadiran ayah dalam proses pengasuhan.

 

3. Miliki Aturan

 Aturan adalah penjaga keharmonisan keluarga, dan sebaik-baik aturan adalah hukum Allah SWT, aturan Allah SWT. Maka perempuan carilah laki-laki yang takut kepada Allah SWT bukan takut kepada pekerjaan..

Ada yang perempuan merasa secara kepintaran lebih dibanding suami, sehingga arogan. Ini perlu diperbaiki, karena sejatinya laki-laki tetap adalah imam dalam rumah tangga.

 

4. Persahabatan

 Suami - Istri di mata Allah SWT adalah 2 sahabat yang harus bekerja sama dalam kebaikan dan taqwa. Siapa yang paling cinta kepada Allah SWT, dan siapa yang paling menyayangi pasangannya, maka ia memiliki derajat yang lebih tinggi..

Jadi rumah tangga bukan hitung-hitungan. Kalau mau hitung-hitungan, jangan berumah tangga, hubungan bisnis saja. Nanti akan ada saat mungkin istri punya uang lebih banyak, maka istri mensupport suami. Meskipun tidak berkewajiban, tapi seorang istri yang punya mawaddah, cinta kepada suaminya, maka ia akan melakukan itu kepada suaminya. Ia akan mensupport suaminya untuk bangkit kembali.

Jadikan rumah nya sebagai mihrab, tempat berdoa kepada Allah SWT. Jadikan rumah sebagai madrasah bagi anak-anak.

Wallahu'alam. Semoga bermanfaat




 

*Disadur dari Talkshow Anti Galau UI Depok 10 Feb 2018

 

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Resepsi Pernikahan, Janganlah Berle...

NEXT ARTICLE

Anak Angkat dan Statusnya Dalam Isl...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru