Jual Beli Yang Dilarang Dalam Islam



Pada dasarnya jual-beli dihalalkan oleh syariat, Allah Ta’ala berfirman :

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [Al-Baqarah : 275]

Akan tetapi ada juga transaksi jual beli yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Jual-beli setelah Adzan kedua setelah sholat Jumat berdasarkan dalil Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman ! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
(QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 9)

Hukum jual beli yang dilaksanakan pada saat tersebut menurut jumhur ulama sah akan tetapi pelakunya berdosa. Namun, menurut mazhab hambali tidak sah dan pelakunya berdosa dan hal ini hanya berlaku kepada laki-laki.

2. Transaksi jual beli dimana barang tersebut digunakan untuk bermaksiat. Sesuai kaidah :

إِعَانَةٌ عَلَى المَعَاصِيْ مَعْصِيَةٌ

Menolong perbuatan maksiat adalah kemaksiatan.

Ini kaedah yang telah disimpulkan dari Al Qur’an dan hadits.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al Maidah : 2)

Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat.

3. Tidak boleh menjual sesuatu atas penjualan saudaranya. Contohnya adalah sebagai berikut :

Si penjual pertama menawarkan barang, pembeli pun sudah cocok dan sudah ada kecenderungan untuk membeli. Lalu datanglah penjual kedua memberi tawaran lebih menarik, akhirnya si pembeli memutuskan membatalkan transaksi pertama karena dapat tawaran yang menggiurkan. Ia pun memutuskan mengambil barang dagangan yang ditawarkan pedagang kedua.

Lihatlah, karena tawaran menarik dari penjual kedua, si pembeli akhirnya membatalkan transaksi. Bagaimana perasaan Anda jika Anda berposisi sebagai penjual pertama? Amat sakit hati bukan?. Dari sinilah syariat Islam yang mulia melarang tindakan tersebut agar tidak terjadi masalah konflik antara manusia.

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَبِعُ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ

“Janganlah seseorang di antara kalian menjual di atas jualan saudaranya.” (HR. Bukhari no. 2139)

4. Pembelian atas pembelian saudaranya. Sama seperti penjelasan sebelumnya akan tetapi kasusnya adalah pembelian.

Contoh : kita mengatakan bahwa kita akan membeli lebih mahal dari orang yang sudah menawar terlebih dahulu, padahal penjual sudah terlihat cocok dan terlihat kecenderungan akan menjual barangnya.

5. Tidak boleh melakukan jual beli inah.

Contoh Jual beli ‘inah yaitu seorang penjual menjual barangnya dengan cara ditangguhkan, kemudian ia membeli kembali barangnya dari orang yang telah membeli barangnya tersebut dengan harga yang lebih sedikit dari yang ia jual, namun ia membayar harganya dengan kontan sesuai dengan kesepakatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُـمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ شَيْئٌ حَتَّى تَرْجِعُواْ إِلَى دِيْنِكُمْ.

“Apabila kalian melakukan jual beli dengan cara ‘inah, berpegang pada ekor sapi, kalian ridha dengan hasil tanaman dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan membuat kalian dikuasai oleh kehinaan yang tidak ada sesuatu pun yang mampu mencabut kehinaan tersebut (dari kalian) sampai kalian kembali kepada agama kalian.” [HR. Abu Dawud dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma]

6. Menjual barang sebelum menerimanya.

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ.

“Barangsiapa membeli makanan, maka ia tidak boleh menjualnya kembali sebelum ia menerimanya.”

7. Jual Beli buah-buahan sebelum terlihat tanda masaknya. Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ بَيْعِ ثَمَرِ النَّخْلِ حَتَّى تَزْهُوَ. فَقُلْنَا لأَنَسٍ مَا زَهْوُهَا قَالَ تَحْمَرُّ وَتَصْفَرُّ. أَرَأَيْتَكَ إِنْ مَنَعَ اللَّهُ الثَّمَرَةَ بِمَ تَسْتَحِلُّ مَالَ أَخِيكَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli buah kurma sampai nampak kelayakannya.

Perawi bertanya kepada Anas, “Apa yang dimaksud nampak kelayakannya?” jawab Anas: “Sampai memerah atau menguning.”

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Bagaimana menurutmu jika Allah menghendaki tidak jadi berbuah. Dengan alasan apa dia boleh mengambil harta saudaranya?” (HR. Bukhari 2208 & Muslim 4060)

8. Jual Beli Najasy (menawar harga tinggi untuk menipu pengunjung lainnya).

Misalnya, dalam suatu transaksi atau pelelangan, ada penawaran atas suatu barang dengan harga tertentu, kemudian ada seseorang yang menaikkan harga tawarnya, padahal ia tidak berniat untuk membelinya. Dia hanya ingin menaikkan harganya untuk memancing pengunjung lainnya dan untuk menipu para pembeli, baik orang ini bekerjasama dengan penjual ataupun tidak. Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma. Ia berkata:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّجْشِ، وَفِيْ لَفْظٍ وَلاَ تَنَاجَشُوا.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli dengan cara najasy.”

9. Jual Beli barang yang Najis. 

Seperti menjual beli bangkai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ ، وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ . فَقَالَ « لاَ ، هُوَ حَرَامٌ » . ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عِنْدَ ذَلِكَ « قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ ، إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ

“Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung ” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu mengenai jual beli lemak bangkai, mengingat lemak bangkai itu dipakai untuk menambal perahu, meminyaki kulit, dan dijadikan minyak untuk penerangan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Tidak boleh! Jual beli lemak bangkai itu haram” Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi. Sesungguhnya, tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu menjual minyak dari lemak bangkai tersebut, kemudian mereka memakan hasil penjualannya” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim, no. 4132)
_________________________________________

Kesimpulan dari transaksi yang dilarang adalah transaksi tersebut mengandung unsur sebagai berikut :

1. Apa saja yang menjadi sarana kemaksiatan maka barang atau transaksi tersebut dilarang.

2. Jika dalam transaksi tersebut ada unsur Ghoror seperti pada transaksi yang barang kita jual belum kita terima atau menjual barang dengan dua harga. 
3. Jika didalam transaksi jual beli tersebut terdapat unsur kedzaliman. Seperti melakukan jual atau beli diatas harga saudaranya, dsb.

4. Jika barang tersebut merupakan barang yang Najis

5. Jika transaksi jual beli yang didalamnya terdapat unsur riba
_________________________________________
Sistem jual beli Pre Order ada yang mengharamkan dengan alasan sistem ini menjual hutang dengan hutang agar halal bisa dibuat dengan Akad salam atau akad istishna (seperti membeli mobil dengan sistem indend atau memesan baju kepada penjahit) dengan Akad ini menurut mazhab Hanafi dan Ulama Kontemporer merupakan hal yang diperolehkan. Sedangkan untuk jual beli Buah-buahan dimana barangnya bukan dibuat maka dapat menggunakan Akad salam dengan syarat pembayaran sudah dilunasi lebih dulu dan sifat-sifat barang yang dijual harus dijelaskan.


*disadur dari : halaqohwirausaha

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Pengusaha Inspiratif : Sulthon Al...

NEXT ARTICLE

Sejarah Jerusalem dan Masjid Al Aqs...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru