Jual Beli Valas: Beginilah Islam Menanggapi


Saat ini berbagai bentuk transaksi keuangan dilakukan dikalangan masyarakat. Salah satu bentuk transaksi yang telah menjadi kebutuhan hidup yaitu jual beli valuta asing (valas). Hal ini sama halnya dengan kebutuhan manusia pada uang. Valas atau valuta asing diartikan sebagai mata uang luar negeri seperti dolar Amerika, poundsterling Inggris, ringgit Malaysia dan sebagainya. Perdagangan internasional antar negara membutuhkan valuta asing untuk alat bayar luar negeri. Dalam perdagangan internasional dikenal dengan devisa.

Ada beberapa tipe-tipe transaksi valuta asing dan partisipan dengan dalam valuta asing. Beberapa jenis tipe transaksi valuta asing yang terjadi di pasar valuta yaitu spot, forward, dan swap. Spot atau transaksi spot memiliki definisi transaksi valuta asing dengan penyerahan dan pembayaran saat itu juga, meski dalam praktiknya transaksi spot diselenggarakan pada dua hari kerja berikutnya.

Sedangkan forward atau transaksi forward diartikan sebagai transaksi valuta asing dengan penyerahan pada beberapa waktu mendatang sejumlah mata uang tertentu berdasarkan sejumlah mata uang tertentu yang lain. Terakhir swap atau transaksi swap dipahami sebagai transaksi pembelian dan penjualan bersamaan sejumlah tertentu mata uang dengan dua tanggal valuta atau penyerahan yang berbeda.

Dalam melakukan jual beli valuta asing pada dua tingkat pasar terdapat peserta atau partisipan yang aktif. Partisipan atau peserta dalam kegiatan ini dikelompokkan menjadi lima yaitu dealer valuta asing bank dan non bank, perusahaan dan individu, spekulator dan arbitrase, bank sentral, serta pialang valuta asing.

Transaksi valuta asing dalam bahasa Arab diistilahkan dengan kata al-shaf yang berarti jual beli valuta asing. Istilah ini juga sama halnya dengan money changer dalam bahasa Inggris. Dalam hukum islam, transaksi valas termasuk salah satu cara jual beli.

Ada beberapa ayat Al-Quran dan hadist yang menjelaskan diperbolehkannya praktik jual beli valuta asing. Salah satunya berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi :

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapatberdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya   (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali(mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)


Transaksi jual beli valuta asing juga pada prinsipnya juga diperbolehkan berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 28/DSN-MUI/III/2002 dengan ketentuan yaitu tidak spekulasi atau untung-untungan, ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga, apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan tunai (at-taqabudh), serta apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai.

Akan tetapi, para ulama memberikan pandangan beragam terkait hukum fikih jual beli valuta asing dalam Islam. Menurut Syekh Yusuf Qardhawi yang memfatwakan terkait masalah jual beli valas berhubungan dengan investasi sebagian bank Islam dalam jual beli valas.

Jual beli mata uang menurut prinsip syara’ harus dilakukan dengan tunai. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah Saw dalam jual beli enam macam benda yang sudah terkenal. Oleh karena itu, jual beli mata uang dengan sistem penangguhan tidak sah dilakukan, harus dilakukan secara tunai di tempat transaksi itu. Tunai dalam hal ini memiliki maksud menurut kebiasaan masing-masing dan ukurannya sendiri-sendiri. Hukum-hukum ketunaian menurut syara’ akan berlaku. Meskipun, realitas tunai itu mengikuti kedaruratan waktu, namun harus diukur sesuai dengan ukurannya. Oleh karena itu, bank Islam tidak diperkenankan menjual apa yang telah dibeli kecuali setelah diterima terlebih dahulu menurut kebiasaan yang berlaku.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa jual beli valuta asing diperbolehkan namun dengan beberapa batasan yang perlu diperhatikan antara lain pertukaran harus dilakukan secara tunai (bai’naqd), motif pertukaran dalam rangka mendukung transaksi komersil, harus dihindari jual beli bersyarat, transaksi berjangka harus dilakukan dengan pihak-pihak yang diyakini mampu menyediakan valuta asing yang dipertukarkan, serta tidak dibenarkan menjual barang yang belum dikuasai atau tanpa hak kepemilikan.


artikel : azzlam.com

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Jual Beli Online: Pandangan dan Huk...

NEXT ARTICLE

Selingkuh : Pengkhianatan dalam Per...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru