Jual Beli Online: Pandangan dan Hukum dalam Islam

Modernisasi memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam melakukan aktivitasnya. Salah satu ciri yang terlihat adanya modernisasi saat ini dengan berkembangnya teknologi. Teknologi inilah yang semakin mempermudah seseorang dalam beraktivitas. Tanpa terkecuali aktivitas jual beli.

Jual beli yang dulu dilakukan dengan bertatap muka, bertemu antara penjual dan pembeli untuk membentuk kesepakatan harga, saat ini bisa dilakukan dengan bantuan teknologi melalui jaringan internet. Jual beli dengan sistem seperti ini dikenal dengan jual beli online. Jual beli online juga dikenal dengan istilah e-marketing, pemasaran produk atau jasa yang dilakukan dengan menggunakan bantuan teknologi informasi.

Sistem jual beli online ini dikatakan  memberikan keuntungan baik dari sisi produsen maupun konsumen. Dari sisi produsen, jual beli melalui online dapat memperluas cakupan pasar, menemukan pelanggan potensial di seluruh pelosok dunia serta meningkatkan brand perusahaan. Sedangkan dari sisi konsumen akan diuntungkan dengan kemudahan dalam memesan barang, pilihan produk yang lebih luas, serta efektif dan efisien waktu karena tidak perlu datang ke toko tempat penjualan barang dan jasa yang diinginkan.

Pandangan Islam Tentang Jual Beli Online

Jual beli atau berdagang sudah dicontohkan oleh Rasulullah sejak dahulu. Rasulullah bahkan menjelaskan dalam hadistnya bahwa 9 dari 10 pintu rezeki yaitu melalui berdagang. Berdasarkan hadist tersebut memiliki makna bahwa berdagang menjadi jalan di mana pintu-pintu rezeki banyak dibukakan sehingga banyak karunia Allah yang dipancarkan dalam kegiatan tersebut.

Dalam Islam, kegiatan jual beli secara terang-terangan diperbolehkan, namun  Hal ini disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 275.


Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya   (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali(mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Selama ini, jual beli dilakukan secara langsung. Dalam ayat tersebut juga menjelaskan bahwa jual beli yang dimaksudkan dilakukan dengan tatap muka antara penjual dan pembeli, produk yang dijual juga dapat dilihat oleh oleh pembeli.

Hukum Jual Beli Online

Mualamat dalam Islam berarti tukar menukar barang, jasa, atau sesuatu yang memberi manfaat dengan tata cara yang telah ditetapkan. Hal ini termasuk jual beli, hutang piutang, pemberian upah, serikat usaha, patungan, dan lain-lain. Proses pertukaran barang dan jasa menggunakan alat tukar berupa uang.

Dijelaskan sebelumnya terkait jual beli dalam Islam di Surah Al-Baqarah ayat 275. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa jual beli tidak diperbolehkan melakukan riba. Apabila seseorang mengambil riba maka akan dibangkitkan dari dalam kubur dengan keadaan yang buruk.

Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam rukun jual beli yaitu adanya penjual dan pembeli, ada barang dan jasa yang diperjualbelikan dan barang penukar, dan adanya ijab qabul. Syarat penjual dan pembeli dalam tatacara jual beli Islami harus berakal sehat, ada kemauan sendiri, dewasa atau baligh dan tidak mubadzir atau tidak boros. Sedangkan, ijab qabul didefinisikan sebagai ucapan transaksi antara yang menjual dan yang membeli (penjual dan pembeli).

Selain adanya rukun jual beli, ada hal-hal yang diharamkan dalam jual beli menurut Islam seperti membeli barang di atas harga pasaran, membeli barang yang sudah dibeli atau dipesan orang lain, menjual atau membeli barang dengan cara menipu, menimbun barang yang dijual agar harga naik karena dibutuhkan masyarakat, menjual atau membeli barang haram, menyembunyikan cacat barang kepada pembeli, menjual barang dengan cara kredit dengan imbalan bunga yang ditetapkan, serta melakukan jual beli dengan tujuan buruk. Hal-hal tersebut dilarang oleh Allah dan harus dihindari dalam melakukan jual beli.

Dalam pandangan Islam, terdapat dua syarat yang menjadikan kegiatan jual beli sah yaitu syarat-syarat pelaku akad dan syarat-syarat barang yang diakadkan. Syarat-syarat pelaku akad meliputi berakal dan memiliki kemampuan memilih. Oleh karena itu, orang gila, orang mabuk, dan anak kecil apabila melakukan jual beli dinyatakan tidak sah. Sedangkan syarat-syarat barang yang diakadkan meliputi suci berarti halal dan baik, bermanfaat, milik orang yang berakad, mampu diserahkan oleh pelaku akad, mengetahui status barang baik kuantitas kualitas jenis barang dan lainnya, serta barang tersebut dapat diterima oleh pihak yang melakukan akad.

Terdapat istilah As-Salam, oleh ulama fiqih didefinisikan sebagai menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, atau menjual suatu barang yang ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal di awal, sedangkan barangnya diserahkan kemudian. Berdasarkan penjelasan tersebut, jual beli secara online dapat dimasukkan dalam akad as-salam. Dimana pembeli membayar terlebih dahulu atas barang yang akan dibelinya sedangkan barangnya diserahkan kemudian. Akan tetapi, ciri-ciri barang yang akan dibeli harus jelas penyifatannya.

Hukum jual beli online tidak dijelaskan dalam Al-Quran secara jelas, namun landasan hukum melaksanakan jual beli online ini yaitu hadist nabi dan ijma’ ulama’. Dalam hadist riwayat Hakim bin Nizam dijelaskan.

dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, Nabi datang ke Madinah, dimana masyrakat melakukan transaksi salam (memesan) kurma selama dua tahun dan tiga tahun, kemudian Nabi bersabda, barang siapa melakukan akad salam terhadap Sesutu, hendaklah dilakukan dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan sampai batas waktu yang jelas.”

Meskipun dalam hadist dan ijma’ ulama’ dijelaskan bahwa jual beli as-salam diperbolehkan, dalam transaksi ini diperlukan adanya keterangan mengenai pihak-pihak yang terlibat berupa orang yang melakukan transaksi secara langsung dan syarat-syarat ijab qabul. Jual beli secara online dapat menjadi salah satu alternatif cara pemasaran bagi para pengusaha serta pilihan pembelian bagi para pembeli. Tentu dengan kelemahan dan kelebihan masing-masing dibandingkan penjualan secara konvensional.  


artikel : azzlam.com

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Tentang Selfie dalam Pandangan Isla...

NEXT ARTICLE

Jual Beli Valas: Beginilah Islam Me...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru