Hukum Meninggalkan Shalat


_Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du._

Masalah ini termasuk masalah besar yang diperdebatkan oleh para Ulama pada zaman dahulu dan masa sekarang.

Imam Ahmad bin Hanbal _rahimahullah_ mengatakan, _"Orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dengan kekufuran yang menyebabkan dia keluar dari Islam, dia diancam hukuman mati, jika tidak bertaubat dan tidak mengerjakan shalat."_

Meninggalkan shalat ada dua bentuk:

1). Meninggalkan shalat sambil meyakini bahwa shalat itu tidak wajib, maka pelakunya kafir. Ini berdasarkan kesepakatan Ulama.

2). Meninggalkan shalat, karena malas namun tetap meyakini bahwa shalat itu wajib. Dalam masalah ini para ulama Ahlus Sunnah berbeda pendapat. Sebagian mereka berpendapat bahwa pelakunya belum kafir, sementara sebagian yang lain menghukuminya kafir. Pendapat kedua inilah yang lebih kuat -insya Allah berdasarkan banyak dalil dan perkataan as-salafush shalih.

Jika permasalahan ini termasuk masalah yang diperselisihkan, maka yang wajib bagi kita adalah mengembalikannya kepada kitâbullâh dan Sunnah Rasûlullâh , karena Allâh berfirman:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

```"Tentang sesuatu apapun yang kamu perselisihkan, maka putusannya (terserah) kepada Allâh."``` [QS. As Syûrâ/42: 10]

Allâh juga berfirman, yang artinya, “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Quran) dan Rasul (as-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS An-Nisa/4: 59]

Juga karena pendapat masing-masing pihak yang berselisih memiliki kedudukan yang sama, oleh karena itu masalah ini wajib dikembali kepada al-Quran dan Sunnah Rasûlullâh .

Pendapat yang menyatakan kafirnya orang yang meninggalkan shalat adalah pendapat mayoritas Shahabat. [Lihat: Mauqif Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, 1/172-177]

Bahkan sebagian Ulama menukilkan adanya ijma’ sahabat Nabi tentang kekafiran orang yang meninggalkan shalat. Seperti Imam Ibnu Hazm dalam kitab al-Muhalla, 2/242-243, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah_ dalam Kitâbus Shalat, hlm. 26, dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah_ dalam Syarhul Mumti’ 2/28.

Seorang tabi’in, Abdullâh bin Syaqîq rahimahullah, berkata, "Dahulu para sahabat Nabi tidak memandang sesuatu di antara amalan-amalan yang meninggalkannya merupakan kekafiran selain shalat."* [Riwayat al-Hakim, lihat: Mauqif Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, 1/174]

Perbedaan pendapat Ulama tentang masalah meninggalkan shalat merupakan kekafiran atau bukan, ini menunjukkan besarnya kedudukan shalat.

Hukuman Bagi Orang Yang Meninggalkan Shalat

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah_ berkata, "Kaum Muslimin tidak berselisih pendapat bahwa meninggalkan shalat wajib dengan sengaja termasuk dosa besar yang terbesar, dan bahwa dosanya di sisi Allâh lebih besar daripada dosa membunuh, merampas harta orang, berzina, mencuri, dan minum khamr. Dan bahwa pelakunya menghadapi hukuman Allah, kemurkaanNya, dan kehinaan dariNya di dunia dan akhirat."

Kemudian ulama berbeda pendapat tentang (hukum) bunuh terhadapnya, tentang cara (hukum) bunuh terhadapnya, dan tentang kekafirannya.

(Imam) Sufyân bin Sa’id ats-Tsauri, Abu ‘Amr al-Auza’i, Abdullâh bin al-Mubârak, Hammad bin bin Zaid, Waki’ bin al-Jarrah, Mâlik bin Anas, Muhammad bin Idris asy-Syâfi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahûyah dan murid-murid, mereka berfatwa, "bahwa orang yang meninggalkan shalat di (hukum) bunuh". Kemudian mereka berbeda pendapat tentang cara (hukum) bunuh terhadapnya. Mayoritas mereka berkata, "Dibunuh dengan pedang dengan cara dipenggal lehernya."  Sebagian pengikut imam Syâfi’i berkata, "Dia dipukul dengan kayu sampai dia shalat atau dia mati." Ibnu Suraij berkata, "Dia ditusuk dengan pedang sampai mati, karena hal itu lebih sempurna di dalam menghentikannya dan lebih diharapkan untuk kembali (taubat)." [Ash-Shalat wa Hukmu Tarikiha, hlm. 29-30]

Imam Abu Hanifah, Mâlik dan Imam Syâfi’I rahimahumullah_ mengatakan, "Orang yang meninggalkan shalat adalah orang fasik dan tidak kafir," namun, mereka berbeda pendapat mengenai hukumannya. Menurut Imam Malik dan Imam Syâfi’i rahimahumallah , "Orang yang meninggalkan shalat diancam hukuman mati sebagai hadd," sedangkan menurut Imam Abu Hanîfah _rahimahullah, "Dia diancam hukuman sebagai ta’zîr (peringatan), bukan hukuman mati."

Hukum bunuh tersebut tentu penguasa yang berhak melakukan setelah pelakunya diminta untuk bertaubat dan melakukan shalat, namun dia menolaknya.

Inilah sedikit keterangan mengenai kedudukan shalat yang sangat agung di dalam agama Islam, dan bahaya meninggalkannya. Semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala selalu menolong kita untuk melaksanakan shalat dengan sebaik-baiknya. Aamiin.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

MENGOSONGKAN JIWA DARI SIFAT MUNAFI...

NEXT ARTICLE

Bolehkah Kalau Mengucapkan Selamat ...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru