Dampak yang Timbul Akibat LGBT dan Strategi Menghadapinya


LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) merupakan masalah besar yang sangat mengkhawatirkan banyak umat manusia. Ajaran Islam melarang dengan tegas perilaku menyimpang ini karena tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Homoseksual dan lesbian merupakan perilaku seksual yang menyimpang dan merupakan dosa besar


Allah SWT berfirman:

“Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?’ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita,…” (Q.S. Al-A’raaf: 80-81)

Rasulullah saw bersabda, “Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Al-Baihaki).

Al-Quran dan Sunnah di atas sudah menerangkan dengan jelas bahwa praktik homoseks merupakan satu dosa besar dan sangat berat sanksinya di dunia. Apabila tidak dikenakan di dunia maka sanksi tersebut akan diberlakukan di akhirat. Sedangkan hukuman bagi pelaku sihaq (lesbi), menurut kesepakatan para ulama, adalah ta’zir, di mana pemerintah yang memiliki wewenang untuk menentukan hukuman yang paling tepat, sehingga bisa memberikan efek jera bagi pelaku perbuatan haram ini (Husaini, hal. 108)


Dampak-dampak yang ditimbulkan


Prof. DR. Abdul Hamid El-Qudah, spesialis penyakit kelamin menular dan AIDS di asosiasi kedokteran Islam dunia (FIMA) di dalam bukunya Kaum Luth Masa Kini (hal. 65-71) menjelaskan dampak-dampak yang ditimbulkan sebagai berikut:


Dampak kesehatan


Dampak-dampak kesehatan yang ditimbulkan di antaranya adalah sebagai berikut:

78% pelaku homo seksual terjangkit penyakit kelamin menular (Rueda, E. “The Homosexual Network.” Old Greenwich, Conn., The Devin Adair Company, 1982, p. 53).

Rata-rata usia kaum gay adalah 42 tahun dan menurun menjadi 39 tahun jika korban AIDS dari golongan gay dimasukkan ke dalamnya. Sedangkan rata-rata usia lelaki yang menikah dan normal adalah 75 tahun. Rata-rata usia Kaum lesbian adalah 45 tahun sedangkan rata-rata wanita yang bersuami dan normal 79 tahun (Fields, DR. E. “Is Homosexual Activity Normal?” Marietta, GA).


Dampak sosial


Beberapa dampak sosial yang ditimbulkan adalah sebagai berikut:

Penelitian menyatakan “seorang gay mempunyai pasangan antara 20-106 orang per tahunnya. Sedangkan pasangan zina seseorang tidak lebih dari 8 orang seumur hidupnya.” (Corey, L. And Holmes, K. Sexual Transmissions of Hepatitis A in Homosexual Men.” New England J. Med., 1980, pp 435-438).

43% dari golongan kaum gay yang berhasil didata dan diteliti menyatakan bahwasanya selama hidupnya mereka melakukan homo seksual dengan lebih dari 500 org. 28% melakukannya dengan lebih dari 1000 orang. 79% dari mereka mengatakan bahwa pasangan homonya tersebut berasal dari orang yang tidak dikenalinya sama sekali. 70% dari mereka hanya merupakan pasangan kencan satu malam atau beberapa menit saja (Bell, A. and Weinberg, M.Homosexualities: a Study of Diversity Among Men and Women. New York: Simon & Schuster, 1978).


Dampak Pendidikan


Adapun dampak pendidikan di antaranya yaitu siswa ataupun siswi yang menganggap dirinya sebagai homo menghadapi permasalahan putus sekolah 5 kali lebih besar daripada siswa normal karena mereka merasakan ketidakamanan. Dan 28% dari mereka dipaksa meninggalkan sekolah (National Gay and Lesbian Task Force, “Anti-Gay/Lesbian Victimization,” New York, 1984)


Dampak Keamanan


Dampak keamanan yang ditimbulkan lebih mencengangkan lagi yaitu:

Kaum homo seksual menyebabkan 33% pelecehan seksual pada anak-anak di Amerika Serikat; padahal populasi mereka hanyalah 2% dari keseluruhan penduduk Amerika. Hal ini berarti 1 dari 20 kasus homo seksual merupakan pelecehan seksual pada anak-anak, sedangkan dari 490 kasus perzinaan 1 di antaranya merupakan pelecehan seksual pada anak-anak (Psychological Report, 1986, 58 pp. 327-337).

Meskipun penelitian saat ini menyatakan bahwa persentase sebenarnya kaum homo seksual antara 1-2% dari populasi Amerika, namun mereka menyatakan bahwa populasi mereka 10% dengan tujuan agar masyarakat beranggapan bahwa jumlah mereka banyak dan berpengaruh pada perpolitikan dan perundang-undangan masyarakat (Science Magazine, 18 July 1993, p. 322).

 

Strategi-strategi dalam Menghadapi LGBT


Mengingat banyak sekali dampak-dampak yang ditimbulkan dari perilaku menyimpang ini, maka diperlukan strategi dalam menghadapi masalah LGBT ini.


Menumbuhkan Kesadaran Individual Pelaku LGBT dengan Mengenal Musuh dan Strategi Melawan Musuh Abadi


Tak dipungkiri bahwa setan menjadi musuh abadi manusia yang akan terus menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke dalam lembah kebinasaan.


Allah SWT berfirman:


“Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan; sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Az-Zukhruf: 62)

Cara setan dalam menyesatkan manusia adalah dengan memoles perbuatan maksiat dan jahat sehingga tampak indah dalam pandangan manusia. “Iblis berkata: Ya Rabbi, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, maka pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (Q.S. Al-Hijr: 39)


Allah SWT berfirman:

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (Q.S. Fussilat: 36)


Upaya manusia salah satunya adalah dengan berlindung kepada Allah SWT agar terhindar dari kejahatan setan sebagaimana Kalamullah:


“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (Q.S. An-Nas: 1-6)



Kemudian setelah mengenal adalah menyesali perbuatan tersebut dan berupaya kembali kepada Allah SWT dengan memperbanyak istighfar dan melakukan Taubatan Nashuha. Proses penyucian hati dalam Islam dikenal dengan Tazkiyatun Nafs yakni dengan cara beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dzikir, berpikir positif (Husnuzhan) tidak hanya kepada sesama manusia tetapi juga terhadap diri sendiri dan Allah SWT serta memperbanyak doa yaitu momen hati terkoneksi dengan Allah SWT.


Menerapkan Usulan Untuk Menanggulangi Wabah LGBT di Indonesia


Penyelesaian masalah LGBT dalam lingkup yang lebih luas seperti yang terjadi di masyarakat, dapat dilakukan dengan menerapkan usulan DR. Adian Husaini dalam bukunya LGBT di Indonesia: Perkembangan dan solusinya (hal 117-120). Ia menjelaskan strategi-strategi dalam menghadapi masalah LGBT di Indonesia yaitu:


1.      Dalam jangka pendek, perlu dilakukan peninjauan kembali peraturan perundang-undangan yang memberikan kebebasan melakukan praktik hubungan seksual sejenis. Perlu ada perbaikan dalam pasal 292 KUHP, misalnya, agar pasal itu juga mencakup perbuatan hubungan seksual sejenis dengan orang yang sama-sama dewasa. Pemerintah dan DPR perlu segera menyepakati untuk mencegah menularnya legalisasi LGBT itu dari AS dan negara-negara lain, dengan cara memperketat peraturan perundang-undangan. Bisa juga sebagian warga masyarakat Indonesia yang sadar dan peduli untuk mengajukan gugatan judicial review terhadap pasal-pasal KUHP yang memberikan jalan terjadinya tindak kejahatan di bidang seksual.


2.      Dalam jangka pendek pula, sebaiknya ada Perguruan Tinggi yang secara resmi mendirikan Pusat Kajian dan Penanggulangan LGBT. Pusat kajian ini bersifat komprehensif dan integratif serta lintas bidang studi. Aktivitasnya adalah melakukan penelitian-penelitian serta konsultasi psikologi dan pengobatan bagi pengidap LGBT.


3.      Masih dalam jangka pendek, sebaiknya juga masjid-masjid besar membuka klinik LGBT, yang memberikan bimbingan dan penyuluhan keagamaan kepada penderita LGBT, baik secara langsung maupun melalui media online, bahkan juga pengobatan-pengobatan terhadap penderita LGBT. Bisa dipadukan terapi modern dengan beberapa bentuk pengobatan seperti bekam, ruqyah syar’iyyah, dan sebagainya.


4.      Pemerintah bersama masyarakat perlu segera melakukan kampanye besar-besaran untuk memberikan penyuluhan tentang bahaya LGBT-termasuk membatasi kampanye-kampanye hitam kaum liberalis yang memberikan dukungan kepada legalisasi LGBT.


5.      Kaum muslimin, khususnya, perlu memberikan pendekatan yang integral dalam memandang kedudukan LGBT di tengah masyarakat. Bagaimana pun LGBT adalah bagian dari umat manusia yang harus diberikan hak-haknya sesuai dengan prinsip kemanusiaan, sambil terus disadarkan akan kekeliruan tindakan mereka. Dalam hal ini, perlu segera dilakukan pendidikan khusus untuk mencetak tenaga-tenaga dai bidang LGBT. Lebih bagus jika program ini diintegrasikan dalam suatu prodi di Perguruan Tinggi dalam bentuk ‘Konsentrasi Program studi’.


6.      Para pemimpin dan tokoh-tokoh umat Islam perlu banyak melakukan pendekatan kepada para pemimpin di media massa, khususnya media televisi, agar mencegah dijadikannya media massa sebagai ajang kampanye bebas penyebaran paham dan praktik LGBT ini.


7.      Secara individual, setiap Muslim, harus aktif menyuarakan kebenaran, melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Kepada siapa pun yang terindikasi ikut melakukan penyebaran paham legalisasi LGBT. Sebagaimana tuntunan Al-Quran, dakwah perlu dilakukan dengan hikmah, mauidhatil hasanah, dan berdebat dengan cara yang baik.


8.      Lembaga-lembaga donor dan kaum berpunya di kalangan Muslim, perlu memberikan beasiswa secara khusus kepada calon-calon doktor yang bersedia menulis disertasi dan bersungguh-sungguh untuk menekuni serta terjun dalam arena dakwah khusus penyadaran pengidap LGBT.

9.      Media-media massa muslim perlu menampilkan sebanyak mungkin kisah-kisah pertobatan orang-orang LGBT dan mengajak mereka untuk aktif menyuarakan pendapat mereka, agar masyarakat semakin optimis, bahwa penyakit LGBT bisa disembuhkan.


10.  Orang-orang yang sadar dari LGBT perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai-khususnya oleh pemerintah-agar mereka dapat berhimpun dan memperdayakan dirinya dalam menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari dan melaksanakan aktivitas penyadaran kepada para LGBT yang belum sadar akan kekeliruannya.


Islam sebagai Solusi Permasalahan Umat


Badan Ulama’ Organisasi Syar’i Untuk Membantu Pemerhati Al-Quran dan Sunnah telah menyusun Visi Islam dalam Melawan AIDS yang terangkum di dalam buku dengan judul yang sama yaitu Visi Islam dalam Melawan AIDS (hal. 103). Metode Islam disajikan secara lengkap dan terperinci pada Bab Metode Islam dalam Melawan Penyakit AIDS. Islam mengatasi permasalahan ini dari akar-akarnya, dengan cara mengharamkan semua penyebab-penyebab penyakit ini, sehingga diharamkan perzinaan, homo seksual dan semua hal yang bisa menyebabkan keduanya. Hal inilah yang dapat memberikan perlindungan hakiki dari terserang penyakit kelamin.


Metode Islam dalam Melawan Penyakit AIDS


Metode Islam dalam Melawan Penyakit AIDS terdiri dari sekumpulan akidah dan falsafah yang lurus di masyarakat, karakteristik usia dan hubungan-hubungan sosial serta sekumpulan akidah yang baku dalam memandang tiga pilar utama: manusia, alam semesta dan kehidupan. 


Dasar-dasar itu ditentukan oleh Allah Ta’ala melalui syariatnya yang sempurna diambillah sumber syariat dan batasan-batasannya yang benar dengan pola hubungan sosial antar manusia. Dengan begitu maka sumbernya adalah tauhid kepada Allah Ta’ala Tuhan alam semesta, batasannya adalah syariat Islam dan kasih sayang antar sesama manusia merupakan pola pengatur hubungan antar sesama manusia. Dengan kerangka yang luas dan kompleks inilah diambil metode Islam dalam melawan IDS, karena Islam menganggap menjaga tubuh merupakan salah satu tujuan Islam dan salah satu cara menjaga kekuatan.


Dalam hal ini Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mukmimin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)


Perbedaan utama antara metode Islam dengan strategi PBB dalam mengobati wabah AIDS adalah, bahwasanya metode Islam berupaya untuk mengeringkan sumber penyakit, mengatasi penyebabnya dan membelenggu bahayanya. Sedangkan strategi PBB malahan mempertahankan sumber penyakit-dengan membela hak-hak homo seksual dan seks bebas- dan berupaya untuk berinteraksi dengan dampaknya saja-seperti dengan membagikan kondom-dengan alasan untuk menjaga kebebasan pribadi sedangkan hakikatnya ia menghancurkan hak-hak umat, bangsa dan Negara dengan berupaya untuk mewajibkan pola kehidupan barat ke seluruh penjuru dunia.


Metode Islam dalam Mengatur Naluri Manusia


Di antara hakikat dalam Islam adalah perhatiannya pada naluri manusia, dan Islam memberikan satu pintu yang baik untuknya untuk menyalurkan kekuatannya dan menikmati kelezatannya. Di antara naluri yang dimiliki manusia adalah gejolak seks, Islam memberikannya bingkai yang mulia dan bersih melalui hubungan antara lelaki dan perempuan dengan perjanjian yang kokoh yang dipenuhi dengan cinta, kasih dan sayang yang disertai dengan pengakuan bahwasanya hubungan tersebut merupakan suatu keniscayaan yang harus dipenuhi dalam kehidupan ini sebagaimana kebutuhan pada makanan dan pakaian.


Allah Ta’ala berfirman: “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka….” (QS. Al-Baqarah: 187)


Islam juga menentukan tujuan mulia dari pernikahan yang di antaranya:


1.      Memberikan keturunan dan menjaga kelestarian. Hal ini terlihat jelas dalam firman Allah SWT:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak….” (QS An-Nisaa’: 1)
“Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka Mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl: 72)
“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam. Maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. …” (QS. Al-Baqarah: 223)
Dan tidak logis jika ada seseorang menanam tumbuhan namun dia tidak mengharapkan buahnya.
Sebagaimana juga sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam: “menikahlah kalian dengan wanita yang subur dan penyayang. Sesungguhnya aku akan merasa bangga dengan jumlah kalian yang banyak.” (HR Nasa’i)


2.      Menjaga kesucian diri dan memenuhi kebutuhan biologis di antara kedua pasangan. Sehingga masing-masing di antara keduanya tidak berpikir untuk berkhianat, menyimpang, dan merampas kehormatan orang lain.


3.      Mewujudkan ketenteraman dana ketenangan jiwa sehingga masing-masing di antara keduanya dapat bekerja dan memproduksi hal yang bermanfaat bagi dirinya dan umatnya. Allah Ta’ala berfirman: “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Ruum: 21)


Agar tujuan-tujuan tersebut di atas terwujud, Islam mempermudah pernikahan guna menutup celah kerusakan. Islam tidak menjadikan wanita sebagai komoditas yang bisa diperjual belikan, namun Islam menjadikan mahar yang dibayarkan oleh pihak suami sebagai penghormatan dan hadiah yang mengungkapkan keinginan untuk menikahinya. 


Oleh karena itulah Islam menganjurkan untuk tidak mempermahal mahar. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “pernikahan yang paling besar berkahnya adalah pernikahan yang paling mudah maharnya” (HR. Ahmad)

Di samping adanya berbagai keringanan, kemudahan dan anjuran ini, Islam juga menutup pintu-pintu kejahatan dan permusuhan kehormatan; sehingga diputuskan hukuman berat bagi pelaku zina dan sarana untuk membuktikannya pun sulit guna menjaga kehormatan manusia agar tidak dipermainkan orang lain dengan adanya bukti dan kejelasan.


Pesan dan Nasehat


1.      Bagi Pemerintah:


Hendaklah para pemimpin dan pemerintahan merasakan adanya tanggung jawab yang dibebankan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka melalui sabdanya: “setiap imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari)
“Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaganya atau menyia-nyiakannya.” (HR. Bukhari)


Semoga Allah Ta’ala senantiasa menaungi negeri ini dengan rahmat, kasih sayang, cinta serta rida-Nya (baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur). Aamiin.



Sumber: dakwatuna.com

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Kisah Nabi Luth yang Diutus Allah K...

NEXT ARTICLE

Memahami Surat Al-Falaq

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru