Bullying? Bagaimana Pandangan Islam?


Proses interaksi yang terjadi di lingkungan tidak hanya menyangkut hal yang menyenangkan. Terkadang muncul juga proses interaksi yang seharusnya tidak dilakukan atau bahkan dihindari, salah satunya bullying.


Fenomena bullying bukan lagi menjadi hal yang baru. Kasus ini telah terjadi di masyarakat dari dulu dan dalam perkembangannya berevolusi menyesuaikan kondisi dan keadaan saat ini. Hal ini tentu menjadi ancaman bagi para korban atau calon korban bullying. Sebagai agama yang sempurna, Islam memberikan hukuman yang tegas bagi para pelaku bullying agar tercipta lingkungan yang bersih dan harmonis.


Penjelasan Bullying


Bullying dapat diartikan sebagai salah satu jenis perilaku agresif yang dilakukan kepada orang yang lebih lemah dan secara berulang-ulang. Perilaku seperti ini membuat korbannya merasa tertindas, terancam, dan tersakiti.


Namun dalam kenyataannya, tidak selalu orang “lemah” yang menjadi korban bullying. Akan tetapi semua orang bisa menjadi korban. Perilaku inipun tidak melulu dilakukan di dunia nyata secara persinggungan fisik, malah juga di dunia maya melalui media sosial.


Fenomena bullying dapat dikatakan sebagai sebuah siklus. Kemungkinan pelaku bullying saat ini juga berasal dari korban bullying sebelumnya. Ketika menjadi korban bullying, terbentuk skema kognitif bahwa bullying dapat dibenarkan meskipun mereka harus merasakan dampak negatifnya. Maka dari itu, perilaku bullying tidak boleh dibiarkan secara terus menerus. Perlu dilakukan penanganan bahkan pencegahan terhadap perilaku yang satu ini.


Sudut pandang Islam tidak memperbolehkan perilaku bullying ini terjadi. Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Selain itu juga mengajarkan umatnya untuk tidak menyakiti orang lain.


Bullying sebagai bentuk perilaku merendahkan orang lain, mengancam, menindas, dan menyakiti orang lain tidak sesuai dengan ajaran Islam. Seringkali bullying dilakukan tanpa disengaja melalui candaan.


Candaan yang dilontarkan tidak disadari telah menyinggung bahkan merendahkan orang lain. Dalam Islam hal ini juga tidak diperbolehkan. Terkait bercandaan, Rasulullah sebagai suri tauladan yang baik telah mengajarkan perilaku yang dapat dicontoh oleh umatnya, termasuk bercanda yang tidak menyakiti orang lain.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzâb/33:21]


 

Fenomena bullying juga sering ditemui di kalangan anak sekolah. National Youth Violence Resource Center tahun 2002 menyatakan bahwa salah satu faktor perilaku ini dapat terjadi di kalangan anak sekolah karena suasana sekolah yang tidak kondusif. Perilaku ini juga muncul karena tekanan dari dalam diri seseorang yang dapat diakibatkan oleh kondisi lingkungan pelaku bullying. Parahnya lagi, bullying saat ini bisa dilakukan dengan menggunakan bantuan teknologi yang dikenal dengan istilah cyberbullying. Cyberbullying dilakukan oleh seseorang dengan melontarkan komentar-komentar negatif pada akun seseorang tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan dari hal itu.


Dampak Bullying


Beberapa hal yang dapat terjadi pada korban bullying diantaranya bagi seorang pelajar akan mogok untuk pergi ke sekolah. Seorang anak yang mendapatkan perlakuan bullying di sekolah akan merasa takut apabila berangkat ke sekolah. Hal ini menjadikan anak tersebut malas untuk berangkat ke sekolah lagi.


Dampak lain yang ditimbulkan yaitu dorongan untuk meningkatkan penyalahgunaan rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang. Karena tekanan dari luar bagi para korban bullying, membuat mereka melarikan diri dari tekanan tersebut ke hal-hal negatif. Selain itu, bullying juga bisa menyebabkan seorang anak mungkin menunjukkan sifat kekerasan. Sifat ini dapat muncul akibat pelampiasan dari dalam diri selama tekanan dari bullying tersebut diterima.


Banyaknya dampak negatif yang diterima para korban bullying ini menunjukkan bahwa Islam sangat tidak menyukai perilaku tersebut. Bullying dikategorikan dalam akhlak madzmumah atau akhlak tercela. Perilaku ini seperti ini seperti merendahkan orang lain, padahal Islam tidak menyukai umatnya untuk melakukan hal demikian. Firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 berbunyi:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ


Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)


Ayat tersebut menunjukkan bahwa sebagai seorang muslim sudah selayaknya menjaga dan menyayangi sesama, tidak merendahkan atau bahkan menzalimi sesama manusia.


Cara Mengatasi Bullying


Meskipun bullying menjadi fenomena sosial yang mengkhawatirkan, perilaku ini dapat diatasi. Hal ini dilakukan agar para korban bullying tidak bertambah dan juga meminimalisasi para pelaku bullying.


Beberapa hal dapat dilakukan untuk mengatasi bullying dengan mengajarkan anak untuk dapat menyelesaikan permasalahan sendiri. Pengajaran ini membantu seorang anak untuk kuat dan berpikir jalan keluar dari suatu persoalan. Namun, orang tua juga harus mengajarkan kepada seorang anak untuk melawan apabila terus-terusan dibully. Melawan bukan berarti membalas dengan perlakuan yang sama, akan tetapi lebih kepada menahan agar perlakukan yang diberikan oleh pelaku bullying dapat dihentikan.


Mengatasi bullying dapat dilakukan dengan pendekatan kepada pelaku. Dalam Islam diajarkan untuk membalas keburukan dengan kebaikan. Pelaku bullying dapat didekati oleh keluarga korban, diajak untuk berkomunikasi dengan baik, diberlakukan dengan baik agar tidak berlanjut melakukan bullying kepada korban.


Selain itu, menanamkan kebiasaan untuk menceritakan keseharian juga dapat dilakukan oleh orang tua. Dengan pembiasaan tersebut, orang tua akan lebih tahu persoalan yang sedang menimpa seorang anak. Hal yang paling penting dari mengatasi perilaku bullying yaitu dengan membekali anak tentang ilmu agama yang baik dan benar. Ajaran agama yang kuat menjadi landasan bagi sesorang untuk tidak merendahkan orang lain. Mengingat bahwa Islam tidak menganjurkan atau bahkan melarang manusia untuk merendahkan orang lain.

 

Artikel : azzlam.com

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Menata Taman Rumah Sesuai Syariat I...

NEXT ARTICLE

Foto Pre Wedding dalam Pandangan Is...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru