Tentang Selfie dalam Pandangan Islam


Siapa yang tidak mengetahui istilah kata ‘selfie’? Selfie dapat diartikan sebagai cara berfoto yang dilakukan sendirian atau bersama orang lain dengan menggunakan kamera yang ada pada handphone dan gadget lainnya, kemudian diunggah ke situs-situs jejaring media sosial. Fenomena yang dikenal dengan foto selfie ini muncul karena perkembangan teknologi yang semakin pesat. Perkembangan teknologi inilah yang memfasilitasi seseorang untuk dapat berfoto selfie.


Seperti yang dikutib dalam Risalah Islam, Dr Mariann Hardey, seorang pengajar di Durham University mengatakan bahwa selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya. Seorang yang melakukan foto selfie ingin terlihat bernilai dengan mengunggah foto tersebut. Selain itu, komentar positif yang diberikan oleh orang-orang terhadap foto yang diunggah memberikan kepuasan dan kebanggan bagi mereka.


Berbagai penelitian telah dilakukan terkait fenomena foto selfie. Salah satu temuan dari fenomena ini mengatakan bahwa seseorang yang melakukan selfie atau memotret diri sendiri termasuk salah satu ciri orang yang tidak percaya diri. Penelitian lain yang dilakukan oleh Puji Purwati, mahasiswi jurusan ilmu komunikasi ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Diponegoro, menyatakan bahwa seorang remaja yang melakukan foto selfie dan diunggah pada akun sosial media instagram karena ingin menunjukkan penampilan fisik yang dimiliki.


Beberapa hal tersebut menunjukkan bahwa fenomena selfie sudah menyebar dan dapat dikatakan dilakukan oleh semua kalangan. Berbagai macam faktor pendorong yang menyebabkan fenomena ini terjadi. Islam sendiri memiliki sudut pandang terkait fenomena selfie sekarang ini.


Dalam pandangan Islam, selfie yang dilakukan oleh seseorang akan menumbuhkan sifat riya’ yaitu keinginan untuk dipuji oleh orang lain dan sifat ‘ujub yaitu mengagumi diri sendiri. Kedua sifat yang ditumbuhkan akibat melakukan selfie sangat dilarang oleh Allah. Terkait sifat ‘ujub sendiri, telah dijelaskan dalam hadist riwayat Thabrani sebagi berikut.

“Tiga dosa pembinasa: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya.” (HR. Thabrani dari Anas bin Malik)

Sifat ‘ujub bahkan dikategorikan dalam dosa besar oleh Rasulullah Saw dengan pernyataan dalam hadist tersebut bahwa ‘ujub termasuk dalam tiga dose pembinasa.


Fenomena selfie yang dilakukan dapat menimbulkan sifat menonjolkan diri sendiri. Seseorang akan merasa bahwa dirinya diberikan kelebihan dan lebih baik dari orang lain sehingga merasa senang apabila mendapat komentar positif dari foto yang telah diunggah. Hal tersebut termasuk perbuatan yang tidak disukai Allah. Dijelaskan dalam hadist riwayat Muslim dari Abu Said al-Kudri.


“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang berkecukupan, dan yang tidak menonjolkan diri.” (HR. Muslim dari Abu Said al-Kudri)

 

Berfoto selfie sebenarnya boleh dilakukan asalkan hasilnya disimpan. Hal ini dilakukan untuk menghindari seseorang dari segala bentuk sifat yang telah dijelaskan. Sudah jelas disebutkan terkait hukum selfie dalam Islam. Selfie menimbulkan sifat ‘ujub yang termasuk dosa besar dan sifat riya. Terlebih lagi, selfie bahkan bisa menimbulkan sifat takabur atau sombong karena memamerkan suatu hal saat foto dilakukan. Salah satu alasan lain yang menyebutkan bahwa Islam melarang melakukan foto selfie karena larangan membuat gambar. Hal ini dijelaskan dalam hadist yang berbunyi:

“Baginda Muhammad Saw melarang gambar ada di dalam rumah dan beliau juga melarang membuat gambar.” (HR. Tirmizi)


Namun, selain pelarangan melakukan foto selfie, ada pandangan yang menyatakan bahwa foto selfie dapat dilakukan atau diperbolehkan. Ulama menyatakan bahwa foto selfie menggunakan alat yang digunakan untuk mengambil barang yaitu berupa kamera. Sedangkan gambar yang dilarang dibuat dengan menggunakan tangan dan menyerupai makhluk hidup. Ditegaskan bahwa selfie termasuk dalam cara mengabadikan atau memotret dan bukan menciptakan hal baru yang menyerupai makhluk ciptaan Allah.


Berbagai pandangan Islam terkait foto selfie memang beraneka ragam, tergantung pendapat para ulama. Foto selfie yang dilakukan dengan niat untuk mendapatkan perhatian, pujian, dan komentar sudah selayaknya untuk tidak dilakukan. Hal ini dapat menimbulkan sifat-sifat yang dilarang Allah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Foto selfie dilakukan dengan sewajarnya saja, untuk mengabadikan hal yang dirasa perlu untuk diabadikan agar tidak menjuruskan seseorang pada dosa dan kesesatan.


Riya dan ujub adalah persoalan hati. Kita tidak bisa menilai  foto orang lain apakah didasarkan riya atau tidak. Semuanya kembali kepada si pemilik foto. Hanya dia dan Allah Swt saja yang lebih mengetahui tujuan dan niat dari foto selfienya. Apabila selama tak ada niat atau yang mengarah pada keharaman, tentu saja selfie tidak bisa pula diharamkan.

Selfie memang lebih banyak digemari kaum hawa. Bagi seorang Muslimah, memperhatikan adab-adab ketika berfoto sangat penting harus dilakukan. Selain itu, seorang Muslimah juga dituntut untuk berfoto sekedarnya saja, tidak terlalu berlebihan meniru-nirukan gaya wanita jahiliyah yang berpotensi membangkitkan keinginan orang-orang jahat untuk berbuat negatif kepadanya.

Mengumbar foto ke media sosial juga harus hati-hati. Seorang Muslimah jangan sampai sembarangan dalam menshare kan fotonya terlebih foto selfie di media sosial. Mengingat perkembangan teknologi yang semakin canggih untuk menghindari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab memakai foto-foto wanita untuk tujuan negatif.




Artikel : Azzlam.com

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Menjenguk Orang Sakit Adalah Amal ...

NEXT ARTICLE

Keguguran? Begini Pandangan Islam

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: Module 'timezonedb' already loaded

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: