Meluangkan Waktu Mendiskusikan Persoalan Keluarga



Apabila anggota keluarga diberi waktu dan kesempatan untuk sama-sama duduk mendiskusikan berbagai persoalan intern dan ekstern keluarga, maka itulah pertanda bahwa keluarga tersebut memperhatikan keutuhan keluarga, peran dan saling kerjasamanya serta sebuah upaya nyata dalam mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah.

 

Tidak perlu diragukan lagi, bahwa laki-laki yang diberi amanah kepemimpinan dalam rumah tangga adalah  orang yang paling bertanggung jawab, penentu segala keputusan. Tetapi dengan memberikan kesempatan kepada yang lain  terutama kepada anak-anak yang menginjak dewasa  maka hal itu akan merupakan pendidikan tanggung jawab kepada mereka, di samping semua akan merasa lepas dan lapang dengan perasaannya, karena pendapat mereka didengar dan dihargai. 

Misalnya, dengan mendiskusikan soal umrah pada bulan Ramadhan atau pada liburan-liburan lainnya, bertandang ke sanak keluarga menyambung silaturrahim, berdarmawisata, penyelenggaraan walimah pernikahan, aqiqah, pindah rumah, proyek-proyek sosial seperti penghitungan jumlah fakir miskin sekampung untuk pemberian bantuan atau pengiriman makanan kepada  mereka, demikian juga diskusi tentang kemelut keluarga, kerabat dan memberikan andil pemecahannya.

 

Perlu juga diingatkan kepada bentuk lain dari pertemuan yang penting untuk diselenggarakan, yakni  "Pertemuan  Keterbukaan" antara kedua orangtua dan anak-anak. Beberapa kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang telah baligh terkadang tidak mungkin untuk dipecahkan kecuali melalui pertemuan pribadi. Misalnya, bapak dengan anak laki-lakinya memperbincangkan secara terbuka berbagai persoalan yang menyangkut problematika anak remaja dan puber, hukum-hukum baligh. Demikian pula halnya ibu dengan puterinya membincangkan persoalan-persoalan tersebut sekaligus mengajarinya hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita baligh.

 

Bapak dan ibu hendaknya berusaha semampu mungkin membantu memecahkan problem anak-anaknya terutama pada masa mereka masih remaja. Hal itu misalnya bisa dilakukan dengan menggunakan bahasa-bahasa yang menarik, seperti ketika saya masih seumur kamu , sehingga mudah diterima.

 

Tidak adanya pertemuan semacam ini terkadang menjadikan sebagian anak-anak menjalin persahabatan dengan teman-teman yang tidak baik, yang pada akhirnya menimbulkan petaka besar. Wallahu Alam.

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

EKONOMI ISLAM PENDORONG PERTUMBUHAN...

NEXT ARTICLE

PEDOFILIA DALAM PERSPEKTIF HUKUM IS...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY

Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru