Cara Menghadapi Strategi Kaum Munafik Berdasarkan Qur'an


Strategi Kaum Munafik itu ada dua yang populer :

1. Menjadikan “toleransi yang melampaui batas dan meremehkan aqidah” ataupun “mempromosikan hal-hal yang melanggar aturan syariat”, yang mana kedua itu dilakukan dengan alasan kebaikan dan perbaikan ummat manusia. Dan mereka melakukan itu dengan mengatasnamakan Islam.

Anda tidak setuju dengan mereka? Maka siap-siap saja Anda dicap sebagai orang intoleran, tidak bijak, tidak mengedepankan persatuan & kesatuan bangsa, kolot, bodoh, fundamentalis, dan berbagai macam pendiskreditan serta fitnah lainnya.

2. Mereka berusaha menjadikan sikap dan pandangan mereka sebagai representasi “Islam yang benar” di berbagai macam forum dan kesempatan.

Baik itu di hadapan orang-orang kafir sahabat mereka, orang-orang yang lemah “nalar kritisnya” dan tertipu oleh “kata-kata manis” mereka, ataupun orang-orang awam yang tidak memahami duduk masalahnya.

Sehingga jika anda ber-amar ma’ruf nahi munkar terhadap mereka, maka “bahkan” orang-orang kafir pun juga akan ikut-ikutan membela mereka tanpa pakai “malu-malu” lagi.

Dalil untuk dua buah strategi populer orang Munafikin ini adalah sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّـهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ ﴿٨﴾ يُخَادِعُونَ اللَّـهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿٩﴾ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّـهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ ﴿١٠﴾

“Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; mereka mendapat siksa yang pedih, karena mereka berdusta.” [Qs. Al Baqarah : 8-10]

***
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ﴿١١﴾ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ ﴿١٢﴾

Dan apabila dikatakan kepada mereka,”Janganlah berbuat kerusakan di bumi.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. [Qs. Al Baqarah : 11-12]
***
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ
ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَـٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ ﴿١٣﴾ وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ ﴿١٤﴾ اللَّـهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ ﴿١٥﴾ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ ﴿١٦﴾

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, “Apakah kami akan berimankah seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal; tetapi mereka tidak tahu.

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman”. Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” Allah akan memperolok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk. [Qs. Al Baqarah : 13-16]

***
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٤) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٥) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (١٦) لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (١٧) يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ (١٨)اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (١٩) إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الأذَلِّينَ (٢٠)

Tidakkah engkau perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang telah dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum) kamu dan bukan dari (kaum) mereka. Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedang mereka mengetahuinya. Allah telah menyediakan azab yang sangat keras bagi mereka. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan.

  

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah; maka bagi mereka azab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka tidak berguna sedikit pun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

(Ingatlah) pada hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka orang-orang mukmin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa mereka orang-orang pendusta. Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa golongan setan itulah golongan yang rugi.

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. [Qs. Al-Mujadalah : 14-20]

***
Sekedar sebagai peringatan kepada kita, bahwasanya sejak dari zaman Rasulullah hingga sekarang itu yang namanya orang Munafik itu akan senantiasa ada.


Oleh karena itu pembagian orang Islam dan orang kafir itu sebenarnya kurang terperinci. Yang tepat sebenarnya adalah :

1. Orang Islam yang beriman
2. Orang yang Munafik yang mengaku Islam dan mengatasnamakan Islam
3. Orang Kafir non Islam.


Hal ini bukanlah suatu sentimen ataupun perpecahan di antara ummat Islam sendiri, akan tetapi memang Allah sendiri yang telah mengabarkan akan keberadaan orang-orang munafik ini di dalam banyak ayat-ayat-Nya.


Dan bahkan Allah sendiri juga menamakan beberapa surat dengan nama-nama golongan tersebut sbb :

1. Golongan Orang Islam yang beriman di Al Qur’an surat : Al-Mu’minuun (surat ke 23) dan Al Mu’min (surat ke 40)

2. Golongan Orang yang Munafik yang mengaku Islam dan mengatasnamakan Islam di Al Qur’an surat : Al Munafiquun (surat ke 63)

3. Golongan Orang Kafir non Islam.di Al Qur’an surat : Al-Kaafiruun (surat ke 109)

Maka dari itu menafikan “keberadaan” orang Munafik dan menafikan “Strategy” orang munafik, adalah suatu hal yang absurd dan mengada-ada.

Menafikan adanya orang Kafir yang membela orang munafik, atau yang mendukung untuk menjadikan orang Munafik sebagai “role model” orang Islam yang benar, maka itu juga suatu hal yang tidak benar sama sekali.


Maka dari itu kesabaran orang orang Islam yang beriman itu ada dua :

1. Sabar menghadapi orang-orang kafir non Islam
2. Sabar menghadapi orang-orang munafik yang mengaku Islam dan mengatasnamakan Islam


Janganlah kita bersedih terhadap orang-orang munafik yang “membela kekafiran” orang kafir. Dan juga janganlah kita bersedih terhadap orang-orang kafir yang “membela kemunafiqan” orang-orang munafik.

Dan ingat “berhubungan muamalah dengan orang kafir” itu berbeda dengan “membela kekafiran dan kemunafiqan yang merusak keimanan”.


Rasulullah dan para shahabat tidak ada masalah dengan hal-hal yang kita ada ikatan perjanjian dan muamalah terhadap orang kafir non Islam, baik itu dalam pergaulan, bertetangga, jual beli, dan lain-lain. Akan tetapi terhadap hal-hal merusak keimanan, maka Rasulullah dan para shahabat tidak tinggal diam akan hal itu, baik itu mengenai kemaksiatan, kekafiran, ataupun kemunafiqan.

***

Adapun tindakan dan sikap kita dalam “mengidentifikasi” dan “menghadapi” orang-orang munafik tidak bisa disamaratakan. Hal ini bergantung kepada :

1. Kondisi kemunafikan yang ada pada tiap orang
2. Melihat kepada pertimbangan Mashlahat dan Madhorot.

Kenapa kita harus menimbang dua hal itu, dan tidak boleh “bersumbu pendek” dalam menghadapi orang munafik dan makar-makarnya? Ini karena mereka mempunyai kekuatan “pengumpulan opini”, umumnya dekat dengan pemangku “kekuasaan”, dan umumnya mempunyai pengaruh “psikologi massa” yang harus kita pertimbangkan.

Ingat, yang namanya orang munafik itu tidak akan mau untuk “turun tangan” sendiri kecuali untuk “pencitraan”, dan lebih suka untuk “meminjam tangan” masyarakat dan pemangku kekuasaan yang mereka hasut.

Allah subhaanahu wa ta’ala sendiri mengkhabarkan betapa mengagumkannya orang munafik itu,

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ –

Dan apabila engkau melihat mereka, penampilan mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau (terpukau dan suka untuk) mendengarkan tutur katanya. [Qs. Al Munaafiquun : 4]


Terlebih lagi, sikap dan pertimbangan kita harus juga disertai dengan membedakan antara orang yang merupakan “master mind” munafiq tulen, dan orang yang hanya sekedar ikut-ikutan serta “terbrain wash” dengan konsep-konsep pemikiran ideologi munafikin.

Sikap pembedaan ini adalah seperti contoh ketika terjadi kisah fitnah “haditsul ifki” (kabar bohong) terhadap istri rasulullah ‘Aisyah radhiyalloohu ‘anhaa, yang sempat mengguncang rumah tangga rasulullaah shalalloohu ‘alaihi wa sallam. Fitnah ini dihembuskan oleh orang-orang munafik.

Allah subhaanahu wa ta’ala pun menurunkan firman Nya yang menyatakan kesucian Ibunda ‘Aisyah radhiyalloohu ‘anhaa, dan “membeda-bedakan” dosa serta adzab orang yang turut serta dalam menyebarkan kabar fitnah ini sesuai dengan kadar kesalahan mereka masing-masing.

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula). [Qs. An Nuur : 11]


Para ulama juga membagi nifaq (sifat kemunafiqan) menjadi dua :

1. Nifaq kecil
Orang yang hatinya benar-benar beriman, namun dia melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan ciri khas orang munafiq. Seperti jika berkata berbohong, jika dipercaya khianat, dan jika berjanji maka tidak ditepati.

Orang seperti ini masih dikategorikan seorang seorang Muslim, namun hanya saja muslim yang bermaksiat dan mempunyai sifat munafiq yang tidak sampai mengeluarkannya dari Islam.

2. Nifaq besar
Orang yang keimanannya tidak ada dalam hatinya, namun dengan dusta mengatakan bahwa dia beriman. Oranb seperti ini pada hakikatnya adalah orang kafir, dan umumnya dia akan menganggap hal-hal “membatalkan keimanan” itu sebagai hal yang remeh, serta suka mempermainkan ayat-ayat Allah agar sesuai dengan keinginannya.

Para ulama ada juga yang membagi nifaq menjadi : nifaq ‘amali (nifaq perbuatan) dan nifaq i’tiqodi (nifaq keyakinan).

Penjelasan mengenai nifaq ‘amali dan nifaq i’tiqodi adalah sama seperti nifaq kecil dan nifaq besar seperti yang kita jelaskan sebelumnya.


Secara umum jenis-jenis pemikiran nifaq i’tiqodi yang mengatasnamakan “inilah Islam yang benar” padahal isinya kekufuran, adalah :

1. Pemikiran Aqidah tingkatan Islam “syari’at, ma’rifat, dan hakikat”; yang mana jika seseorang sudah “naik tingkat” ke hakikat maka dia dianggap bisa terlepas dari berbagai macam aturan syariat yang Allah turunkan.

2. Pemikiran “wihdatul wujud” yang menganggap manusia itu jika sudah mencapai tingkatan tertinggi maka dia bisa “bersatu dengan Allah”.

Atau faham Pantheisme, yang menganggap bahwa seluruh alam semesta ini adalah bagian dari pancaran cahaya Allah yang memiliki dzat ketuhanan dengan kadar yang berbeda-beda. Yang mana kadar “dzat ketuhanan” ini bisa kita tingkatkan hingga ke tingkat yang tertinggi dan menjadi “tuhan”.

3. Pemikiran Pluralisme yang berasal dari filsafat relativisme. Yang menganggap semua agama itu memiliki tujuan kepada tuhan yang sama, namun hanya dengan cara yang berbeda-beda saja.

4. Pemikiran Sekulerisme yang menganggap aturan agama itu hanya boleh diterapkan di sektor private (pribadi) saja, adapun di sektor public (umum) apalagi negara maka aturan agama tidak boleh dijadikan acuan dan harus kembali kepada “hukum dan aturan positif” saja.

5. Pemikiran Liberalisme yang membolehkan seseorang untuk memiliki keyakinan dan amalan yang melanggar batas-batas aturan yang telah Allah tetapkan, dengan tetap menganggap diri sebagai seorang muslim yang bertuhankan Allah.

6. Pemikiran-pemikiran yang “mengatasnamakan Islam” lainnya, yang sejatinya hanyalah merupakan kekufuran dan penentangan terhadap aturan wahyu yang Allah turunkan.

Semoga bermanfaat. Barakallahu fiik


Sumber : kautsaramru.wordpress.com

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Fungsi Zakat dalam Islam

NEXT ARTICLE

Kondisi Kemunafikan Zaman Now

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru