Berzikir Untuk Kesehatan Syaraf


Selama ini, banyak muslim yang memahami zikir semata-mata sebagai ungkapan syukur atas limpahan anugerah yang diberikan Allah Swt. Padahal, zikir secara tidak langsung juga memiliki manfaat praktis bagi kesehatan, baik fisik maupun psikis.

Ditinjau dari sudut pandang agama, zikir memiliki banyak manfaat, antara lain: menimbulkan kecintaan kepada Allah Swt, sebagai media untuk kembali kepada Allah Swt, mendekatkan diri kepada Allah Swt, meningkatkan derajat manusia di sisi Sang Pencipta, dan cahaya zikir akan selalu menyertai seseorang baik ketika hidup di dunia, di alam kubur, maupun kelak ketika ia berjalan melintasishirat.

Para Ilmuwan dan ahli kedokteran pun sejak lama tertarik untuk meneliti hubungan antara doa atau zikir dengan kesehatan fisik manusia. Mulai dari ilmuwan Han Jenny (1960) yang mengungkap pengaruh gelombang suara terhadap bentuk dan material sel hingga Fabien dan Grimal (1974) yang membuktikan, bacaan ayat-ayat Al-Qur’an mampu menghancurkan sel kanker setahap demi setahap.

Pemahaman mengenai zikir yang tidak hanya ditinjau dari aspek agama, tetapi juga didukung oleh logika ilmiah kedokteran saraf modern (neuroscience) akan memperkuat dorongan untuk terus-menerus berzikir kepada Allah. Itulah yang coba diselami dan dibongkar dr. Arman Yurisaldi Saleh dalam buku Berzikir untuk Kesehatan Saraf ini. Sebab, pengalaman empiris penulis sebagai klinisi menemukan, beberapa pasien yang mengalami gangguan saraf akan membaik kondisinya setelah membiasakan zikir dengan mengucapkan kalimat tauhidlaa ilaaha illallah dan kalimat istigfar - astaghfirullah.

 

Pasien yang mengalami persoalan alzheimer & stroke, akan lebih baik keadaannya setelah membiasakan dzikir dengan melafadzkan kalimat tauhid *"Laa iIlaaha illallah "* serta kalimat istighfar *"Astaghfirullah"*.

 

Menurut Dr. dr. Arman, dilihat dari pengetahuan kedokteran kontemporer, pengucapan *"Laa iIlaaha illallah"* serta *"Astaghfirullah"* bisa menyingkirkan nyeri dan dapat menumbuhkan ketenangan dan kestabilan saraf untuk pasien. Lantaran dalam ke dua bacaan dzikir itu ada huruf JAHR yg bisa mengeluarkan CO2 dari otak.

 

Dalam kalimat *"Laa Ilaaha Illallah"* ada huruf Jahr yang  diulang tujuh kali, yakni huruf *"Lam"*, serta *"Astaghfirulloh"* ada huruf *"Ghayn", " Ra"*, serta dua buah *"Lam"* hingga ada 4 huruf Jahr yang mesti dilafazkan keras hingga kalimat dzikir tersebut  mengeluarkan karbondioksida semakin banyak waktu udara dihembuskan keluar mulut.

 

Dilihat dari tinjauan pengetahuan syaraf, ada hubungan yang erat pada pelafadzan huruf (Makharij Al-huruf) pada bacaan dzikir dengan aliran darah pernafasan keluar yang mengandung zat CO2 (karbondioksida) dan  system yang rumit didalam otak pada keadaan fisik atau psikis spesial.

Dengan demikian, berdasarkan ilmu tajwid, menzikirkan kedua kalimat ini akan mengeluarkan karbondioksida lebih banyak saat udara diembuskan keluar mulut, dibandingkan dengan kalimat yang sedikit mengandung hurufjahr. Efeknya, ketika seseorang melakukan zikir secara intens dan khusyuk seraya memahami artinya, pembuluh darah di otak akan membuat aliran karbondioksida yang keluar dari pernapasan menjadi lebih banyak. Kadar karbondioksida dalam otak pun akan turun secara teratur. Tubuh pun akan segera menunjukkan kemampuan refleks kompensasi.

 

Nah,  mari kita membiasakan & memperbanyak dzikir dengan mengucapkan kalimat tauhid *"Laa ilaaha illallah"* & kalimat istighfar *"Astaghfirullah"*.

   

*disadur dari buku : Berzikir Untuk Kesehatan Syaraf

 

SHARE Facebook Twitter
PREVIOUS ARTICLE

Mengapa Kita Susah Shalat Malam [Ta...

NEXT ARTICLE

Dalil-Dalil Yang Menunjukkan Larang...

RELATED ARTICLES

COMMENTS (0)

LEAVE A REPLY


Masukkan Nama dan Email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: Module 'timezonedb' already loaded

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: